Syarah Lum’atil I’tiqad (5)


DORONGAN UNTUK BERPEGANG DENGAN  SUNNAH (AJARAN NABI) DAN MENJAUHI BID’AH

[9]  Sungguh kita telah diperintahkan untuk mengikuti atsar (ajaran) para salaf yang sholeh, menjadikan pengajaran mereka sebagai petunjuk. Kita juga diperingatkan agar menjauhi kebid’ahan. Kita juga diberi tahu bahwa bid’ah adalah kesesatan. Nabi bersabda:

“Wajib bagi kalian berpegang dengan sunnahku (ajaranku) dan sunnah para khalifah setelahku yang lurus yang mereaka adalah orang yang mendapat petunjuk, gigitlah ia (sunnahku dan sunnah para khalifah itu) dengan gigi geraham kalian. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru karena sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Ikutilah dan jangan kalian membuat ajaran baru., sungguh kalian telah tercukupi (dalam perkara agama).”(12)

‘Umar bin Abdul Aziz berkata yang makna dari perkataan beliau adalah sebagai berikut: “Berkatalah sebagaimana kaum itu (para shahabat) berkata. Sesungguhnya mereka berkata berdasarkan ilmu. Mereka menahan (diam dari suatu perkara) berlandaskan pada pandangan yang dalam. Mereka lebih mampu untuk menyingkap (merinci) semua permasalahan agama. Mereka adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk mencari amalan yang utama bila ada padanya keutamaan. Bila engkau mengatakan: “muncul perkara baru setelah mereka tiada”, maka tidak ada yang mengada-adakan perkara itu kecuali orang yang menyelisihi petunjuk mereka dan benci terhadap sunnah mereka. Para shahabat telah menerangkan semua permasalahan dengan keterangan yang akan menjadi penyembuh., mereka membicarakan permasalahan yang mencukupi. Orang yang berbicara lebih banyak dari pembicaraan mereka adalah orang-orang yang hanya mendapat kelelahan dan kepayahan,dan orang-orang yang berbicara dengan pembicaraan yang kurang dari pembicaraan mereka adalah orang yang membuat pelecehan.  Suatu kaum telah mengurangi pembicaraan mereka sehingga menjadi kaum yang jauh menyimpang. Sedangkan kaum yang telah melebihi para shahabat sehingga menjadi kaum yang melampaui batas (ghuluw). Dan sungguh para shahabat berada diantara keduanya, mereka sungguh ada di atas petunjuk yang lurus.”

Abu ‘Amr Al Auza’i semoga Allah meridhainya berkata: “Wajib bagimu berpegang dengan atsar (ajaran) para salaf walaupun orang-orang mengusirmu/menolakmu. Jauhilah pendapat-pendapat orang selain mereka (yang semata muncul dari akalnya) walaupun dihiasi dengan berbagai perkataan.”

Muhammad bin Abdurrahman Al Adrami berkata kepada seseorang yang berbicara dan mengajak manusia bid’ah: “Apakah Rasulullah, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali mengetahui perkara bid’ah ini atau tidak?” Laki-laki itu menjawab: “Mereka tidak mengetahui perkarabid’ah itu”. Muhammad berkata: “Apakah ada perkara agama yang mereka tidak mengetahuinya sedangkan engkau mengetahuinya?!!” laki-laki itu menjawab: Aku katakana mereka telah mengetahuinya”. Muhammad menjawab: “Cukup atau tidak bagi mereka dengan tidak menyampaikan dan tidak menyeru umat manusia kepada perkara itu?” Laki-laki itu berkata: “Tentu sudah cukup bagi mereka (dengan tidak membicarakan dan tidak menyerukannya)”. Beliau berkata: “Apakah mungkin ada perkara yang mereka sudah cukup dengannya sedangkan bagimu tidak?!!” Laki-laki itu pun terdiam. Khalifah –yang menghadiri dabat- itu mengatakan: “Semoga allah tidak memberikan kuasa bagi orang yang tidak merasa cukup dengan perkara yang Rasulullah dan para sahabatnya merasa cukup.

Demikianlah keadaan orang yang tidak merasa puas dengan perkara yang mencukupi bagi Rasulullah, para sahabat, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan juga mencukupi bagi para imam yang setelah mereka yang ilmunya kokoh. Mereka mencukupkan dengan membaca dan menerima sebagaimana adatnya ayat dan hadist-hadist yang berisi nama dan sifat Allah. Semoga Allah tidak memberikan kecukupan bari orang yang tidak merasa cukup dengan yang demikian ini.

SYARAH

A.  As Sunnah dan bid’ah, dan hukum masing-masing keduanya:

  • As sunnah secara bahasa adalah jalan (thariqah) secara istilah (agama islam) adalah: perkara yang Nabi dan para sahabatnya berada di atasnya baik berupa keyakinan maupun amalan. Mengikuti sunnah adalah wajib di karenakan Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah ada para (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan (kedatangan) hari kiamat”. (QS. Al Ahzaab:21)

Nabi bersabda:

“Wajib bagi kalian berpegangan dengan sunnahku (ajaranku) dan sunnah para khalifah setelahku yang lurus yang mereka adalah orang yang mendapat petunjuk, gigitlah ia (sunnahku dan sunah para klalifah itu) dengan gigit geraham kalian.”

  • Bid’ah secara bahasa adalah perkara yang baru diadakan, dan secara istilah adalah perkara yang baru diada-adakan dalam agama bertentangan dengan apa yang dijalani oleh Nabi dan para sahabatnya baik dalam perkara aqidah maupun ‘amaliyah. 

Bid’ah adalah haram, karena Allah berfirman:

“Dan barang siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min (para sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah di kuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisaa:155)

Hadist Nabi :

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

B.  Atsar (ajaran) para salaf yang berisi dorongan untuk berpegang dengan As sunnah dan menjauhi bid’ah:

1)    Dari perkataan Shahabat: Berkata ibnu Mas’ud yang beliau adalah seorang shahabat mulia meninggal pada tahun 32 H berusia 60 tahun lebih:

Perkataan beliau: ikutilah yaitu pegangilah atsar (ajaran) Nabi tanpa ada penambahan dan pengurangan.

Perkataan beliau:  jangan berbuat bid’ah artinya jangan membuat ajaran baru dalam agama islam ini.

Perkataan beliau: sungguh kalian telah tercukupi artinya para pendahulu kalian telah memberikan kecukupan kalian dalam perkara agama yang mana Allah telah menyempurnakan agama ini untuk nabi-Nya, dan ia menurunkan firman-Nya.

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu” (QS.Al.Maaidah:3)

Sehingga agama ini tidak butuh kepada penyempurnaan/penambahan lagi.

2)   Perkataan para tabi’in: Amirul Mu’minin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dilahirkan pada th.63 H meninggal th.101 H, beliau mengucapkan perkataan yang mengandung beberapa hal berikut:

  1. Kewajiban berhenti dimana kaum itu berhenti, yang dimaksud dengan kaum disini adalah Nabi dan para shahabat, yaitu pada perkara agama yang mereka diatasnya baik perkara aqidah maupun amalan (praktek ibadah). Karena mereka berhenti (diam) berlandasan pada ilmu dan bashirah. Kalau saja pada perkara baru yang muncul setelah mereka ada kebaikan maka sungguh mereka adalah orang-orang yang paling bersegera untuk melakukannya.
  2. Perkara baru yang diada-adakan sepeninggal mereka tidak ada padanya kecuali penentangan (penyelisihan) terhadap petunjuk mereka dan suatu upaya meninggalkan sunnah mereka. Padahal mereka (para sahabat) telah menerangkan perkara agama yang akan menjadi penyembuh dan yang telah mencukupi.
  3. Diantara kaum muslimin ada yang meremehkan dalam mengikuti pada sahabat maka orang itu menjadi orang yang jauh dari agama. Diantara kaum muslimin ada yang melebihi mereka sehingga menjadi orang-orang yang melampaui batas (ghuluw). Sedangkan jalan yang lurus (ash shirath al mustaqim) adalah berada di antara ghuluw dan pengurangan.

3)   Perkataan tabi’ut taabi’in: Al Auza’I ‘Abdurrahman bin ‘Amr meninggal th. 157 H:

Wajib bagimu berpegangan dengan atsar (ajaran) para salaf: pegangilah jalan (manhaj) para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Karena jalan (tarekat) mereka berdasarkan atas Al Qur’an dan As Sunnah

Walaupun orang-orang mengusirmu/menolakmu: walaupun mereka menjauhimu dan menyingkir darimu.

Jauhilah pendapat-pendapat orang selain mereka: jauhilah pendapat orang-orang yaitu pendapat yang semata muncul dari akalnya tanpa ada sandaran baik dari Al Qur’an maupun sunnah Rasulullah.

Walaupun dihiasi: mereka memperindah dan memperbagus pemikiran/pendapat akal mereka dengan kata-kata yang indah, karena perkara batil tidak akan menjadi benar dikarenakan hiasan dan keindahan kata.

C.  Perdebatan yang terjadi antara Al Adrami dengan seorang penyeru kebid’ahan di hadapan orang khalifah:

Saya (Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin) belum mengetahui lebih lanjut tentang biografi Al Adrami dan orang yang beliau debat. Saya juga tidak mengetahui jenis bid’ah yang disebut dalam kisah ini. Yang penting kita mengetahui tingkatan dalam perdebatan ini untuk kemudian mengetahui cara dalam mendebat musuh (alul bid’ah-pent). Al Adrami –semoga allah merahmatinya- telah membangun setiap langkah dalam mendebat dengan beberapa tingkatan yang beliau gunakan untuk menuju kepada tingkatan berikutnya sehingga lawat debatnya pun terdiam.

Tingkatan pertama: adalah ilmu Al Adrami menanyainya apakah Nabi dan para Khalifah (yang empat) mengetahui bid’ah ini? Penyeru bid’ah menjawab: mereka tidak mengetahuinya. Peniadaan ilmu ini mengandung pelecehan terhadap Nabi dan para khalifah. Yaitu Nabi tidak mengetahui perkara yang paling penting dalam agama Islam. Dalam peniadaan ilmu ini juga terdapat bantahan bagi penyeru bid’ah. Oleh karena itu beliau (Al Adrami) berpindah kepada tingkatan berikutnya yaitu:

Tingkatan kedua: bila mereka (Nabi dan para khalifah) tidak mengetahuinyabagaimana bisa engkau mengetahuinya? Apakah mungkin Allah menutupi ilmu agama ini dari Rasul-Nya dan para Khulafaur Rasyidiin sedangkan ilmu trsebut diberikan kapadamu? Kemudian penyeru bid’ah ini mengulangi jawabannya dan ia mengatakan: “Saya wajib mereka mengetahuinya”. Kemudian Al Adrami berpindah kepada tingkatan berikutnya.

Tingkatan ketiga: kalau mereka mengetahuinya apakah mungkin atau tidak mungkin bagi mereka untuk tidak membicarakannyadan tidak mengajak umat untuk menjalankannya? Penyeru bid’ah itu menjawab: “Mereka diam dan tidak membicarakannya.” Al Adrami berkata: “Apakah ada perkara agama yang Rasulullah dan para khulafaa’ merasa cukup (dengan diam dan tidak membicarakannya-pent) sedangkan engkau tidak?” Orang itu pun terdiam dan tidak mampu lagi menjawab karena pintu jawaban telah tertutup baginya.

Lalu khalifah membenarkan pendapat Al Adrami dan mendo’akan orang yang tidak merasa cukup dari agama yang Nabi dan para khalifah merasa cukup agar mendapat kesempitan.

Demikian setiap penyeru kebatilan baik berupa kebid’ahan atau yang lainnya, pasti akan berakhir dengan ketidakmampuan untuk menjawab.

Wallahua’lambisshawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: