Silsilah hadits dho’if dan maudhu’ 1 – Oleh : Syaikh Albany


“AGAMA ADALAH AKAL. SIAPA YANG TIDAK MEMILIKI AGAMA, TIDAK ADA AKAL BAGINYA”

Hadits ini batil. diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dari Abi Malik Basyir bin Ghalib. Kemudian ia berkata “Hadits ini adalah munkar” ; menurut saya, kelemahan hadits tersebut terletak pada seorang sanadnya yang bernama Bisyir. Dia ini majhul (asing / tidak dikenal) .

Inilah yang dinyatakan  oleh Al-Uzdi dan dikuatkan oleh Adz-Dzahabi dalam kitab mizanul i’tidal, dan al-Asqolani dalam kitab lisanul-mizan.

1 hal yang perlu digaris bawahi disini ialah bahwasannya semua riwayat / hadits yang menyatakan keutamaan akal tidak ada yang shohih. semua berkisar antara dho’if dan maudhu’.

Saya telah menelusuri semua riwayat tentang masalah keutamaan akal tersebut dari awal. Diantaranya apa yang diutarakan oleh Abu Bakar Bin Abid Dunya dalam kitab Al-Aqlu Wa Fadhluhu. Disitu saya dapati ia menyebutkan , riwayat ini “tidak shohih” . kemudian Ibnu Qoyyim dalam kitab al-manar halaman 25 menyatakan, “Hadits2 yang berkenaan dengan akal semuanya dusta belaka.”

 

BARANGSIAPA SHALATNYA TIDAK DAPAT MENCEGAH DARI PERBUATAN KEJI DAN MUNKAR  MAKA IA TIDAK MENAMBAH SESUATUPUN DARI ALLAH KECUALI KEJAUHAN”

 

Hadits diatas batil sekalipun sangat terkenal dan sering menjadi buah bibir namun sanad dan matannya tidak shohih.

Dari segi sanad telah diriwayatkan oleh ath-thabrani dalam kitabnya al-mu’jam al kabir  . al qudha’i dalam kitab musnad asy syihab II/43, Ibnu Hatim dalam tafsir ibnu katsir II/414 dan kitab al-kawakib ad-durari I/2/83 , dari sanad Laits , dari Thawus, dari Ibnu Abbas, ringkasnya hadits tersebut sanadnya tidak shohih sampai kepada Nabi. tetapi hanya mauquf (terhenti) kepada Ibnu Mas’ud dan merupakan ucapannya dan juga hanya sampai kepada Ibnu Abbas . Karena itu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabul iman halaman 12 tidak menyebutnya kecuali sebagai riwayat mauquf yang hanya sampai pada Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas .

Disamping itu matannya tidak shohih sebab zhahirnya hanya mencakup siapa saja yang mendirikan shalat dengan memenuhi rukunnya, padahal syara tetap menghukuminya sah kendati pelakunya masih melakukan maksiat. Jadi tidaklah benar bila seorang yang melakukan shalat dengan syarat dan rukun yang benar lalu masih melakukan maksiat, maka pelakunya akan semakin jauh dari Allah. Ini sesuatu yang tak masuk akal dan tak dibenarkan syari’at.

 

Wallahu a’lam ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: