Fat-hul Baari bi Syarhi Shahiih al-Bukhari 007


وَنَقَلَ بن بَطَّالٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ النَّجَّارِ قَالَ التَّبْوِيبُ يَتَعَلَّقُ بِالآيَةِ وَالْحَدِيثِ مَعًا لأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَى الأَنْبِيَاءِ ثُمَّ إِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الأَعْمَالَ بِالنِّيَّاتِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا الله مُخلصين لَهُ الدّين 

وَقَالَ أَبُو الْعَالِيَةَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ ماوصى بِهِ نوحًا قَالَ وَصَّاهُمْ بِالإِخْلاَصِ فِي عِبَادَتِهِ 

Ibnu Bathal berkata, dari Abu ‘Abdillah bin Najjar, bahwa ia berkata, “Penulisan bab tersebut berkaitan dengan ayat dan hadits sekaligus. Karena sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepada para Nabi hingga kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya setiap amal tergantung dengan niatnya. Sebagaimana firman Allah ta’aala:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا الله مُخلصين لَهُ الدّين

 “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlash menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Mengenai firman Allah ta’aala:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ ماوصى بِهِ نوحًا

“Allah telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh” (QS. Asy-Syuura: 13)

Abul ‘Aliyah berkata: “Allah telah mewasiatkan kepada mereka (maksudnya para Nabi) agar ikhlas dalam beribadah.

وَعَنْ أَبِي عَبْدِ الْمَلِكِ الْبوْنِيِّ قَالَ مُنَاسَبَةُ الْحَدِيثِ لِلتَّرْجَمَةِ أَنَّ بَدْءَ الْوَحْيِ كَانَ بِالنِّيَّةِ لأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فَطَرَ مُحَمَّدًا عَلَى التَّوْحِيدِ وَبَغَّضَ إِلَيْهِ الأَوْثَانَ وَوَهَبَ لَهُ أَوَّلَ أَسْبَابِ النُّبُوَّةِ وَهِيَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ أَخْلَصَ إِلَى اللَّهِ فِي ذَلِكَ فَكَانَ يَتَعَبَّدُ بِغَارِ حِرَاءَ فَقَبِلَ اللَّهُ عَمَلَهُ وَأَتَمَّ لَهُ النِّعْمَةَ  

Abu ‘Abdul Malik al-Buni berkata: “Kaitan hadits ini dengan bab adalah bahwa awal mula turunnya wahyu itu adalah dengan niat. Karena Allah telah memberikan fitrah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di atas tauhid dan membuat beliau membenci berhala. Dan Allah memberikan perkara pertama nubuwat (tanda kenabian) yaitu mimpi yang baik. Setelah melihat mimpi yang baik itu, beliau mengikhlaskan niat karena Allah semata. Maka mulailah beliau menyendiri di gua Hira dan Allah pun menerima amalnya dan menyempurnakan nikmat-Nya untuk beliau.

وَقَالَ الْمُهَلَّبُ مَا مُحَصِّلُهُ قَصَدَ الْبُخَارِيُّ الإِخْبَارَ عَنْ حَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَالِ مَنْشَئِهِ وَأَنَّ اللَّهَ بَغَّضَ إِلَيْهِ الأَوْثَانَ وَحَبَّبَ إِلَيْهِ خِلالَ الْخَيْرِ وَلُزُومَ الْوِحْدَةِ فِرَارًا مِنْ قُرَنَاءِ السُّوءِ فَلَمَّا لَزِمَ ذَلِكَ أَعْطَاهُ اللَّهُ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ وَوَهَبَ لَهُ النُّبُوَّةَ كَمَا يُقَالُ الْفَوَاتِحُ عُنْوَانُ الْخَوَاتِمِ وَلَخَّصَهُ بِنَحْوٍ مِنْ هَذَا الْقَاضِي أَبُو بَكْرِ بْنُ الْعَرَبِيِّ  

Al-Muhallab berkata: “Maksud Imam al-Bukhari adalah menceritakan keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa pertumbuhan beliau. Allah membuatnya membenci berhala dan membuatnya menyukai amal-amal kebaikan dan mengasingkan diri untuk menjauhi teman pergaulan yang jahat. Setelah beliau rutin melaksanakan hal tersebut, barulah kemudian Allah menurunkan karunianya sesuai dengan kadar niatnya. Allah menganugrahi nubuwat. Sebagaimana pepatah mengatakan, “Awal yang baik merupakan tanda bagi akhir yang baik.”Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul ‘Arabi juga menyimpulkan hal yang sama.

وَقَالَ بن الْمُنِيرِ فِي أَوَّلِ التَّرَاجِمِ كَانَ مُقَدِّمَةُ النُّبُوَّةِ فِي حَقِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْهِجْرَةَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِالْخَلْوَةِ فِي غَارِ حِرَاءَ فَنَاسَبَ الإفْتِتَاحَ بِحَدِيثِ الْهِجْرَةِ

Ibnul Munir berkata di awal syarahnya, “Awal mula nubuwat  pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan hijrah kepada Allah mengasingkan diri di gua Hira. Maka dari itu sangat tepat jika kitab ini dibuka dengan hadits tentang hijrah.

وَمِنَ الْمُنَاسَبَاتِ الْبَدِيعَةِ الْوَجِيزَةِ مَا تَقَدَّمَتِ الإِشَارَةُ إِلَيْهِ أَنَّ الْكِتَابَ لَمَّا كَانَ مَوْضُوعًا لِجَمْعِ وَحْيِ السُّنَّةِ صَدَّرَهُ بِبَدْءِ الْوَحْيِ وَلَمَّا كَانَ الْوَحْيُ لِبَيَانِ الأَعْمَالِ الشَّرْعِيَّةِ صَدَّرَهُ بِحَدِيثِ الأَعْمَالِ وَمَعَ هَذِهِ الْمُنَاسَبَاتِ لا يَلِيقُ الْجَزْمُ بِأَنَّهُ لا تَعَلُّقَ لَهُ بِالتَّرْجَمَةِ أَصْلاً وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Salah satu pendapat yang sangat tepat dalam hal ini adalah yang telah kami isyaratkan bahwa sehubungan kitab ini disusun untuk mengumpulkan wahyu as-Sunnah, maka dimulailah dengan pembahasan awal mula turunnya wahyu. Dan sehubungan juga wahyu itu berfungsi menjelaskan amalan-amalan syar’i maka dimulailah kitab ini dengan hadits niat.

Dengan beberapa penjelasan di atas maka kurang tepat jika dikatakan bahwasanya tidak ada kaitan antara hadits dengan judul bab. Sesungguhnya Allah menunjuki hamba yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

وَقَدْ تَوَاتَرَ النَّقْلُ عَنِ الأَئِمَّةِ فِي تَعْظِيمِ قَدْرِ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ لَيْسَ فِي أَخْبَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْءٌ أَجْمَعَ وَأَغْنَى وَأَكْثَرَ فَائِدَةً مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ  

Telah diriwayatkan secara mutawatir perkataan dari para Imam berkenaan dengangungnya kedudukuan hadits ini. Abu ‘Abdillah berkata, “Belum ada satu pun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih kaya isinya dan memiliki banyak faedah, melainkan hadits ini.”

وَاتَّفَقَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ وَالشَّافِعِيُّ فِيمَا نَقَلَهُ الْبُوَيْطِيُّ عَنْهُ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَعَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَحَمْزَةُ الْكِنَانِيُّ عَلَى أَنَّهُ ثُلُثُ الإِسْلامِ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ رُبُعُهُ وَاخْتلفُوا فِي تعْيين الْبَاقِي  

‘Abdurrahman bin Mahdi, Imam asy-Syafi’i sebagaimana yang dikatakan oleh al-Buwaithi, Imam Ahmad bin Hanbal, ‘Ali bin al-Madini, Imam Abu Dawud, Imam at-Tirmidzi, Imam ad-Daraquthni dan Hamzah al-Kinani, mereka telah bersepakat bahwa hadits ini merupakan sepertiga Islam. Ada juga yang menyatakan seperempat Islam dan mereka berselisih mengenai sisanya.

وَقَالَ بن مَهْدِيٍّ أَيْضًا يَدْخُلُ فِي ثَلاثِينَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ 

Ibnu Mahdi berkata, “Hadits ini masuk dalam tiga puluh bab ilmu.”

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ يَدْخُلُ فِي سَبْعِينَ بَابًا وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرِيدَ بِهَذَا الْعَدَدِ الْمُبَالَغَةَ

Imam asy-Syafi’i berkata, “Tujuh puluh bab ilmu.” Bisa jadi pernyataan beliau ini adalah mubalaghah (pernyataan yang dilebih-lebihkan).

وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ أَيْضًا يَنْبَغِي أَنْ يُجْعَلَ هَذَا الْحَدِيثُ رَأْسَ كُلِّ بَابٍ 

وَوَجَّهَ الْبَيْهَقِيُّ كَوْنَهُ ثُلُثَ الْعِلْمِ بِأَنَّ كَسْبَ الْعَبْدِ يَقَعُ بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ وَجَوَارِحِهِ فَالنِّيَّةُ أَحَدُ أَقْسَامِهَا الثَّلاثَةِ وَأَرْجَحُهَا لأَنَّهَا قَدْ تَكُونُ عِبَادَةً مُسْتَقِلَّةً وَغَيْرُهَا يَحْتَاجُ إِلَيْهَا وَمِنْ ثَمَّ وَرَدَ نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ فَإِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا كَانَتْ خَيْرَ الأَمْرَيْنِ  

Imam al-Baihaqi menjelaskan maksud dari sepertiga ilmu itu adalah, “Amalan hamba itu dilakukan dengan hati, lisan dan anggota badannya. Dan niat adalah salah satu dari tiga bagian tersebut dan yang paling mendominasi. Karena niat adalah ibadah yang bersifat independen (mandiri), sedangkan amalan lain membutuhkan niat. Oleh karena itu dikatakan bahwa, niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya. Dengan kata lain, jika engkau melihat niat dan amal maka niatlah yang terbaik di antara keduanya.”

وَكَلامُ الإِمَامِ أَحْمَدَ يَدُلُّ على أَنه أَرَادَ بِكَوْنِهِ ثلث الْعلم أَنه أحد الْقَوَاعِد الثَّلاث الَّتِي تُرَدُّ إِلَيْهَا جَمِيعُ الأَحْكَامِ عِنْدَهُ وَهِيَ هَذَا وَمَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ والحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ الْحَدِيثَ

 

Dan adapun perkataan Imam Ahmad bin Hanbal, perkataan yang beliau maksud dengan sepertiga ilmu adalah salah satu dari tiga pilar pokok yang merupakan rujukan seluruh hukum-hukum syariat. Yakni hadits pada bab ini, kemudian haditsمَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

 “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka ia tertolak.”

Dan hadits,الحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ

 “Perkara yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas.” (Al-Hadits).

______________________

Diterjemahkan secara bebas oleh Abu Miqdad Abdurrozzaq Al-atsariy.

One Response to Fat-hul Baari bi Syarhi Shahiih al-Bukhari 007

  1. Ping-balik: HR.bukhari || No : 1 « ARIF FACHRUDIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: