Syarah Lum’atil I’tiqod (6a)


   SEBAGIAN AYAT  AL QUR’AN YANG BERISI TENTANG SIFAT ALLAH

 LUM`ATUL I`TIQOD

 

 

 

 

 

Di antara ayat yang berisi sifat Allah adalah firman-Nya :

“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu”(QS. Ar Rahman : 27)

♦ Firman Allah :

   “Tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka”(QS. Al Maa-idah : 64)

♦ Firman Allah yang menceritakan tentang Nabi Isa As bahwa beliau berkata:

“ Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang terjadi pada diri Engkau.”( QS. Al Maaidah: 116)

Firman Allah :

“ Dan datanglah Rabbmu.”(QS. Al Fajr: 22)

  Firman Allah :

“ Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah …”(QS. Al Baqarah: 210)

♦ Firman Allah :

“ Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya”(QS. Al Maa-idah :119)

♦ Firman Allah :

 “ Dia (Allah) mencintai mereka dan mereka juga mencintai Allah.”(Qs. Al Maa-idah : 54)

Firman Allah :

“Dan Allah memurkai mereka.”(QS. Al Fath : 6)

Firman Allah :

Mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah.( QS. Muhammad : 28)

Firman Allah :

“Allah tidak menyukai keberangkatan mereka.”(QS. At Taubah : 46)

SYARAH 

Sifat-sifat Allah yang di sebutkan oleh penulis ( Ibnu Qudamah)- semoga Allah merahmatinya-adalah sesuai sebagai berikut yang kita akan membicarakannya sesuai dengan urutan yang dipakai oleh penulis.

∴ SIFAT PERTAMA : WAJAH Allah

Wajah Allah adalah sifat yang telah di tetapkan untuk-Nya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’ para Salaf.

” Tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”(QS. Ar Rahman : 27)

 Rasulullah berkata kepada sa’d bin Abi Waqqaash:

” Sungguh tidaklah engkau berinfak dengan sebuah infak yang engkau mengharapkandengan infaktersebut Wajah Allah kecuali engkau akan mendapatkan pahala atas infak itu.” Muttafaqun ‘alaih(13)

Para salaf berijma’ atas adnya sifat wajah bagi Allah. Sehingga wajib(bagi seluruh hamba-pent)untuk menetapkannya bagi Allah tanpa mentahrif (menyimpangkan makna dan lafal), ta’thil (menghilangkan sifat), takyiif (menerangkan bentuknya), dan tanpa tamtsil (menyerupakan wajah-Nya dengan wajah makhluk). Dan wajah yang ada pada allah adalah wajah yang hakiki sesuai dengan kemuliaan pada-Nya.

Sebagian orang yang berkeinginan menghilangkan sifat ini menafsirkannya dengan pahala. Kita bantah dengan kaidah keempat yang telah lewat (perkataan mereka bertentangan dengan tekstual ayat dan hadits, bertentangan pula dengan metode para salaf, dan tidak ada pada perkataan mereka landasan (dalil) yang shahih.-pent)

∴ Sifat KEDUA :  dua tangan

Dua tangan adalah salah satu sifat Allah yang ditetapkan berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’ para salaf.

Allah berfirman:

tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka” (QS. Al Maaidah:64)

Nabi SAW bersabda:

“ Tangan kanan Allah senantiasa penuh tidak terkurangi oleh nafkah (yang Dia berikan), senantiasa memberikan pad siang dan malam…sedangkan pada tangan-Nya tang lain genggaman yang Ia menaikkan dan menurunkan.” HR. Muslim dan AL Bukhari meriwayatkan dengan maknanya.

Para salaf berijma’ atas adanya dua tangan pada Allah sehingga wajib menetapkannya untuk Allah tanpa tahriif,ta’til, takyiif, dan tanpa tamtsil. Kedua tangan Allah adalah tangan yang sebenarnya sesuai dengan kemulian-Nya.

Kelompok yang bersikukuh untuk menghilangkan sifat ini (al mu’athilah) menafsirkan kedua tangan Allah dengan nikmat atau kekuatan dan yang semisalnya. Kita bantah penafsiran mereka dengan kaidah keempat dan sisi bantahan yang keempat: daam tekstual ayat dan hadits ada yang mencegah dari penafsiran di atas bagaimana yang Allah firmankan: “ kepada apa yang Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku: dan sabda Rasulullah: “ dan menggenggam dengan tangan yang lain:

Lafal-lafal yang menyebutkan dua tangan Allah dan cara menyelaraskan masing-masing lafal:

Pertama: disebutkan dengan lafal tunggal:

“Maha Suci Allah Yang ditangan-Nya segala kerajaan” (QS. Al Mulk:1)

Kedua: dengan menggunakan lafal ganda:

“Tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka” (QS. Al Maaidah:64)

Ketiga: dengan bentuk jamak:

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan untuk mereka yaitu sebagian dari apa yang telah diciptakan oleh tangan-tangan Kami (berupa)binatang ternak” (QS. Yasin: 71)

Penyelarasan dari beberapa penyebutan di atas:

Penyelarasan dari lafal yang berbeda-beda di atas kita katakan bahwa pada lafal yang pertama yang menyebutkan tunggal (satu tangan) adalah bentuk mufrad (tunggal) yang diidhafahkan (disandarkan pada kata yang lain). Sehingga (artinya dalam bahasa arab) mencakup semua jenis tangan yang ada pada Allah dan tidak menafikan (meniadakan) dua tangan yang ada pada-Nya. Sedangkan penyebutan dengan lafal jamak (tiga atau lebih-pent) adalah dalam rangka pengagungan bukan untuk menyebutkan tangan yang berjumlah tiga atau lebih. Dengan demikian lafa jamak tidak  bertentangan dengan penyebutan dua tangan,terlebih bila dikatakan bahwa jumlah dua adalah jumlah terkecil dari kata jamak (plural), maka sama sekali tidak ada pertentangan.

Sifat KETIGA : nafs (diri/dzat)

Sifat nafs (diri/dzat) pada Allah adalah sifat yang ditetapkan berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan) para Salaf.

Allah berfirman:

“Rabbmu telah menetapkan atas diri-nya kasih sayang” (QS.Al An’aam:54)

Allah menceritakan tentang ‘Isa bahwa beliau berkata:

“Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.” (QS. Al Maaidah:116)

Nabi bersabda:

“Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya sebanyak makhluk-Nya, ridho Diri-nya, beratnya

arsy-Nya, dan sebanyak firman-Nya. (HR. Muslim)

Para salaf bersepakat atas sifat diri pada Allah sesuai dengan kemuliaan yang dimiliki-nya dengan wajib untuk menetapkannta padaAllah tanpa tahriif, ta’thil, takyiif, dan tanpa tamtsil.

Sifat KEEMPAT : datang

Kedatangan Allah dalam rangka memutuskan perkara yang ada diantara hamba-hamba-Nya pada hari kiamat adalah sifat yang ditetapkan untukNya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’ para salaf.

Allah berfirman:

“Dan datanglah Rabbmu.” (QS. Al Fajr:22)

Dan firman Allah:

“Tiada yang mereka nanti-nantikan kecuali datangnya Allah…” (QS. AL Baqarah:210)

Nabi bersabda:

“Sampai bila tidak ada yang tersisa kecuali orang yang menyembah Allah maka Rabb sekalian alam akan mendatangi mereka…”  (Muttafaqun ‘alaih)

Penggalan dari sebuah hadits yang panjang.

Para salaf bersepakat atas adanya sifat datang pada Allah sehingga wajib untuk menetapkannya tanpa menyimpangkan, menghilangkan, membagai-manakan, dan tanpa memisalkannya. Sifat datang ini adalah sifat yang hakiki sesuai dengan kemuliaan Allah.

Sekte Al Mu’aththilah (kelompok yang menghilangkan sifat) menakwilkannya dengan datangnya perintah/urusan Allah. Takwilan ini kita bantah dengan kaidah keempat yang telah lalu. Wallahua’lambisshawab

 

Syarah Lum’atil I’tiqad (6b)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: