Kitab MANAQIB


Kitab MANAQIB itu adalah kisah² karomah, kehebatan, teladan manusia yang dianggap wali, ada wali beneran ada wali setan ., kisah ini ada yang bisa dijadikan teladan ada yang mesti dijauhi, karena penuh kurafat dan syirik plus bid’ah dan sebangsanya..

Kalau yang sumbernya dari Al Qur’an dan Sunnah dan ditulis oleh Ulama salaf dan diterbitkan oleh penerbit salaf, maka sangat boleh dibaca dan diambil pelajaran darinya, tapi bila sumbernya nggak jelas, atau karangan orang sufi, ahlul bid’ah, syiah dan sebagainya, sangat wajib ditinggalkan..

Untuk lebih jelasnya, yuk kita simak yang berikut, Bismillah..

♥.•*¨≈MANAQIB≈¨*•.♥

by Asep Rahmat Hidayat

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Kharisma dari seorang tokoh (ulama/ yang dianggap ulama) tak jarang membuat para pengikutnya menempatkan tokoh tersebut dalam kedudukan yang tidak proporsional.Bahkan cenderung terlalu menyanjung dan memujanya melebihi kedudukan yang seharusnya. Di dalam pandangan para pengikutnya, tokoh tersebut nyaris sempurna tiada cacat. Terlebih jika tokoh tersebut dianggap memiliki karomah atau keajaiban, maka tertutuplah pintu kritis dan terbukalah gerbang fanatisme serta taqlid buta yang amat memprihatinkan. Sebut saja Syekh Abdul Qadir Jailani Al Baghdadi.
Beliau adalah seorang tokoh fenomenal di kalangan tasawuf atau tarekat Qodariyah. Dalam pandangan para pengikutnya, Syekh Abdul Qadir adalah wali tertinggi dimana seluruh wali berada di bawah derajat kemuliaan beliau, sehingga beliau diberi gelar “Sulthanul Aulya.” Kekeramatan Syekh Abdul Qadir demikian hebatnya di mata para pengikutnya, bahkan di berbagai buku tarekat kekeramatan inilah yang sangat ditonjolkan meskipun amat sulit untuk diklarifikasi kebenarannya. Memang cukup sulit untuk membedakan antara fakta sejarah dengan legenda dalam mengkaji sosok beliau. Keutamaan dan kekeramatan Syekh Abdul Qadir banyak ditulis oleh para pengagungnya. Buku atau kitab yang berisi tentang keagungan karomah Syekh Abdul Qadir itu disebut dengan manakib Abdul Qadir. Di banyak daerah, kitab-kitab manakib ini dianggap memiliki keistimewaan. Saking istimewanya, kitab-kitab manakib ini nyaris menggeser kharisma Al Qur-an dan Al-Hadits. Ketika ada pembacaan manakib, mesti ada ritual-ritual tertentu yang harus dilaksanakan baik sebelum maupun ketika pembacaan itu berlangsung.

Sungguh aneh memang,bukankah Al Qur-an yang merupakan kitab suci umat Islam pun tidak diperlakukan demikian ? Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ? Mengapa kitab, manakib seakan lebih sakral daripada Al Qur-an yang jelas berasal dari yang Maha Sakral?

MENGENAL SOSOK SYEKH ABDUL QADIR
Beliau dilahirkan pada tahun 470 H / 1077 M di desa Naif kota Ghilan yaitu wilayah di 150 km timur laut Baghdad. Ayahnya bernama Abu Shalih dan ibunya bernama Fathimah binti Abdullah Al-Shama’i Al Husayni. Syekh Abdul Qadir Al Jailani dikenal sebagai tokoh pendiri tarekat Qadariyah. Akhlaknya yang mulia menjadikan beliau tokoh yang kharismatik dan disegani, bahkan dimata para pengikutnya beliau adalah Sulthanul Al Auliya. Nasab atau silsilah keturunan beliau bersambung sampai kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dari Fatimah dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.Namun sebagai ulama, beliau kurang intensif membuat tulisan atau karya ilmiyah dibidang agama. Buku-buku yang ditulis atas, nama beliau merupakan karya para penerusnya yang menukil ceramah-ceramah atau khutbah-khutbah sang Syekh dalam berbagai kesempatan. Diantara buku-buku yang ditulis atas nama beliau adalah :

1. Ghunyatul Thalibin , karya tulis beliau dibidang ilmu fiqih

2. Al Fath Ar Rabbani , merupakan kumpulan 62 khutbah yang ditulis oleh puteranya

3. Futuh Al Ghaib , berisi 78 kumpulan khutbah Syekh Abdul Qadir yang ditulis dan dikumpulkan oleh Abd Al Razzaqq. Menurut C Brokelmann ternyata tulisan tersebut diragukan keasliannya.
BAB II WALI DAN KAROMAH
Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai kitab manakib ” Tinjaanu Aljawahirun Fi Manakibi Assayyid ‘Abdil Qadir”, terlebih dahulu kita akan mempertegas dan memperjelas pengertian wali dan karomah. Sebab berangkat dari wali dan karomah inilah bermunculan kitab-kitab manakib yang menceritakan keutamaan Para wali yang terkadang sangat berlebih-lebihan.Wali menurut pengertian orang awam adalah sosok suci yang sangat dekat dengan Allah. Sebagian lagi berasumsi bahwa wali adalah orang yang bisa menjadi washilah(perantara) Allah dengan makhluk, sehingga bertawasul kepada Para wali dianggap wajib ketika berdo’a kepada Allah. Untuk meluruskan pemahaman yang kurang tepat tersebut perlu kiranya kita membahas pengertian wali dan karomahnya walaupun tidak secara detail.
PENGERTIAN WALI
Secara bahasa wali berarti dekat. Secara istilah, ada berberapa pendapat mengenai pengertian wali diantaranya :Menurut ulama ahlussunnah wal jama’ah, wali adalah setiap orang Islam yang beriman dan bertaqwa tetapi bukan nabi atau rasul.Menurut ulama yang lain, wali adalah semua orang muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wali yang paling utama diantara manusia adalah Para nabi, wali yang paling utama diantara Para nabi adalah Para rasul. Selanjutnya wali yang paling utama diantara Para rasul adalah ulul`adzmi, dan wali yang paling utama diantara ulul `adzmi adalah nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.Dengan demikian maka wali memiliki tingkatan dalam hal kedekatannya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tingkat kedekatan ini secara garis besar dapat digolongkan kedalam dua golongan, yaitu:1. Golongan Assabiqunal Awwalun, yaitu mereka yang terdepan amalannya dengan sangat disiplin mengerjakan yang mandhub dan menjauhi hal yang dimakruhkan.Dalam hal ini termuat dalam sebuah hadits qudsi yang artinya :”Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”2. Golongan Kanan (ash habul yamin), yaitu orang yang menjaga dan memelihara,dengan baik segala amalan wajib.Kedua golongan ini diabadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala didalam Al Qur-an sebagaimana firmanNya :”Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatam (Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan.”Kemudian para. wali itu terbagi pula menurut amalan dan perbuatan Mereka kepada dua bagian; wali Allah dan wali setan.Maka untuk membedakan diantara kedua jenis wali ini perlu kita melihat amalan seorang wali tersebut, bila amalannya benar menurut Al Quran dan Sunnah maka dia adalah wali Allah sebaliknya bila amalannya penuh dengan kesyirikan dan segala bentuk bid’ah maka dia adalah wali setan. Berikut kita akan rinci ciri-ciri dari kedua jenis wali tersebut.
CIRI-CIRI WALI ALLAH
Mengenai wali Allah disebutkan dalam Al Qur-an“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati Ingatlah, sesungguhnya wali-wali itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”• Ciri pertama, beriman, artinya keimanan yang yang dimilikinya tidak dicampuri oleh berbagai bentuk kesyirikan. Keimanan tersebut tidak hanya sekedar pengakuan tetapi keimanan yang mengantarkan kepada. bertakwa. Landasan keimanan yang pertama adalah Dua kalimat syahadat.Maka orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat atau melakukan hal-hal yang membatalkan kalimat tauhid tersebut adalah bukan wali Allah. Seperti menjadikan wali sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah, atau menganggap bahwa hukum selain Islam adalah sama atau lebih baik dari hukum Islam. Atau berpendapat semua agama adalah benar. Atau berkeyakinan bahwa kenabian dan kerasulan tetap ada sampai hari kiamat bahwa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan penutup segala rasul dan nabi.• Ciri kedua, bertaqwa, artinya ia melakukan apa yang diperintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini yaitu melakukan hal-hal yang diwajibkan agama, ditambah lagi dengan amalan-amalan sunnah.

Maka oleh sebab itu kalau ada orang yang mengaku sebagai wali, tapi ia meninggalkan beramal kepada Allah maka ia termasuk pada jenis wali yang kedua yaitu wali setan. Atau melakukan ibadah-ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Baik dalam bentuk shalat maupun zikir, dll.

Sesungguhnya menghormati wali bukanlah dengan berdoa di kuburannya, justru ini adalah perbuatan yang dibenci wali itu sendiri karena telah menyekutukannya dengan Allah.Manakah yang lebih tinggi kehormatan seorang wali disisi Allah dengan kehormatan seorang nabi?Jelas nabi lebih tinggi. Jangankan meminta kepada wali kepada nabi sekalipun tidak boleh berdoa. Jangankan saat setelah mati di waktu hidup saja nabi tidak mampu mendatangkan manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain setelah mati!. Kalau hal itu benar tentulah para sahabat akan berbondong-bondong kekuburan nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam saat Mereka kekeringan atau kelaparan atau saat diserang oleh musuh.Tapi kenyataan justru sebaliknya, saat paceklik terjadi di Madinah, Umar bin Khatab mengajak kaum muslimin melakukan shalat istikharah kemudian menyuruh Abbas bin Abdul Muthalib berdoa, karena kedekatannya dengan nabi, bukannya Umar meminta kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Karena kehidupan beliau di alam barzah tidak bisa disamakan dengan kehidupan di alam dunia.
PENGERTIAN KAROMAH
Karomah adalah keutamaan atau penghormatan disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang diberikan kepada mereka yang istiqomah menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang. Bentuk karomah itu sendiri hanya Allah yang tahu. Karomah tidak boleh disandarkan kepada sesuatu yang luar biasa. Karomah terbesar yang diberikan oleh Allah kepada hambaNya yang bertaqwa adalah pahala dan keridhoan Allah kelak di akhirat.Oleh sebab itu Abu ‘Ali Al Jurjany berpesan: “Jadilah engkau penuntut istiqomah bukan penuntut karomah, sesungguhnya dirimu lebih condong untuk mencari karomah, dan Tuhanmu menuntut darimu istiqomah “.Asumsi masyarakat bahwa karomah adalah suatu hal luar biasa seperti bisa terbang,mampu berjalan diatas air, dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, dan sebagainya merupakan kekeliruan yang menyesatkan.
Kita tidak pernah mendengar di zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam (dimana semua sahabat beliau adalah wali Allah) mereka memiliki hal-hal yang aneh. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat justru hidup sebagaimana manusia biasa, tidak menyandarkan penyelesaian persoalan kehidupan dengan mengandalkan pada karomah.Karomah tidak untuk dipamerkan melainkan sebagai penguat keyakinan pada kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Betapa banyaknya para sahabat yang merupakan orang terdepan dalam barisan para wali tidak memiliki karomah. Begitu pula Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai hamba yang paling mulia disisi Allah waktu berhijrah beliau mengendarai unta bukan mengendarai angin,begitu pula dalam perperangan beliau memakai baju besi bahkan pernah cedera pada waktu perang uhud.
Karomah bukan sebagai syarat mutlak bagi seorang wali. Karomah diberikan Allah kepada seseorang boleh jadi sebagai cobaan dan ujian baginya, atau untuk menambah keyakinannya kepada ajaran Allah, atau pertolongan dari Allah terhadap orang tersebut dalam kesulitan. Para ulama menyebutkan seseorang yang tidak butuh kepada karomah lebih baik dari orang yang butuh kepada karomah.Bahkan kebanyakan para ulama salaf bila mereka mendapat karomah justru mereka bersedih dan tidak merasa bangga karena mereka takut bila hal tersebut adalah istidraaj (tipuan). Begitu pula mereka takut bila diakhirat kelak tidak lagi menerima balasan amalan mereka setelah mereka menerima waktu didunia dalam bentuk karomah. Begitu pula bila mereka di beri karomah, mereka justru menyembunyikannya bukan memamerkannya atau berbagga diri dihadapan orang lain.

BAB III MANAQIB TAUHID ATAU SYIRIK

TELAAH KITAB MANAQIB
Salah satu kitab manaqib yang masyhur ditengah-tengah umat khususnya di Jawa Barat adalah “Tinjaanu AI Jawahiru fi Manaqibi Sayyid ‘Abdil Qadir” yang berbahasa sunda dan merupakan hasil saduran dari kitab ‘Uqudul Al Laali fi Manaqibi Al Jaily dan kitab Tafrihul Al Khathir fi Manaqibi As Sayyidi ‘ Abdil Qadir.Kitab ini mulai dicetak pada tahun 1937 dan beredar sampai saat ini. Kitab ini pada intinya menceritakan keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki oleh Syekh Abdul Qadir Jailani. Kitab ini terdiri dari 53 manqabah dan ditutup dengan bacaan tawasul kepada SyekhAbdul Qadir.Dalam tulisan ini saya akan mencoba menuliskan beberapa manqabah, kemudian melakukan studi kritis dengan tolok ukur Al Qur-an dan Al Hadits serta pengajuan dalila qli. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tidak sedang mendeskriditkan Syekh Abdul Qadir sebab saya yakin beliau adalah salah seorang ulama yang berakhlak mulia dan berpengetahuan tinggi. Yang saya jadikan studi kritis ini adalah perlakuan umat yang berlebih-lebihan dalam mengagungkan beliau.
STUDI KRITIS MANQABAH
Untuk menjaga objektifitas tulisan, terlebih dahulu saya cantumkan bahasa saduran yang terdapat dalam kitab ini yaitu bahasa sunda, kemudian saya terjemahkan kedalam bahasa Indonesia lalu diberi komentar berdasarkan naqly dan aqly.
1. Manqabah ka genep, nyarioskeun Sayyid Abdul Qadir di sarengan ku Nabi Khidir `alaihi salam di Baghdad. Waktos Sayyid Abdul Qadir calik di tegalan iraq, anjeuna disumpingan ku kangeng Nabi Khidir Alaihissallam sareng teras kangjeng nabi Khidir nyarengan calik di Iraq sawatara lami Saur Nabi Khidir Alaihissallam : “upami salira palay disarengan ulah nyulayaan margi ari nyulayaan etasok matak papisah”. Saparantos kitu kanjeng Nadi Khidir Alaihissallam, mulih mung jangji ka Sayyid Abdur Qadir bade ngalongokan sataun sakali Ari. Sayyid Abdul Qadir calik di tempat panuduhan kangjeng Nadi Khidir AS. Sataun sakali sok dilongokan kenging tilu taun.
Terjemah :
Manqabah ke enam menceritakan Sayyid Abdul Qadir ditemani oleh Nabi Khidhir Alaihisallam di Baghdad Waktu Syekh Abdul Qadir duduk di sebuah padang di Iraq, beliau didatangi oleh Nabi Khidhir Alaihissalam Kemudian Nabi Khidhir menemani Syekh Abdul Qadir tinggal di Iraq untuk beberapa waktu. Nabi Khidhir Alaihissalam berkata :” jika anda ingin saya temani maka janganlah berbuat dusta, sebab kedustaan itu dapat menyebabkan perpisahan. Setelah berkata demikian lalu Nabi Khidhir pulang, namun beliau berjanji akan mengunjungi Syekh Abdul Qadir setiap tahun. Sedangkan Sayyid Abdul Qadir tinggal ditempat yang ditunjukkan oleh Nabi Khidhir. Setahun sekali beliau dikunjungi oleh Nabi Khidhir selama tiga tahun.
Komentar :
Memang sungguh menjadi kemuliaan jika dikunjungi oleh seseorang yang mulia. Nabi Khidhir adalah seorang nabi yang mulia mengunjungi Syekh Abdul Qadir. Tentu kunjungan Nabi Khidhir ini akan menambah nilai plus bagi Syekh Abdul Qadir. Namun masalahnya rentang masa antara Syekh dengan Nabi Khidhir terlampau jauh untuk dipertemukan. Nabi Khidhir hidup pada zaman Nabi Musa Alaihissallam.Nabi musa hidup ribuan tahun sebelum Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu ? Syekh Abdul Qadir hidup setelah 400 tahun setelah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.Bagaimanakan ke dua orang mulia ini (Nabi Khidhir dan Syekh Abdul Qadir) dapat bertemu? Bukankah dapat dipastikan bahwa Nabi Khidhir telah wafat ketika Syekh Abdul Qadir hidup ? Mungkin ada yang berkata : Mereka kan kekasih Allah, yang satu seorang Nabi dan yang satunya lagi seorang wali yang pastinya mereka memiliki kemampuan yang tidak dapat dijangkau oleh orang awam. Ketahuilah bahwa nabi dan wali adalah tingkat spiritual atau kebatinan, sementara itu pertemuan fisik adalah masalah real. Maka seorang nabi sekalipun tetap membutuhkan kehidupan jasmani untuk melakukan sebuah persinggungan fisik. Secara fisik, Nabi adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan karena berada dalam dimensi ruang dan waktu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

Artinya :”Katakanlah, Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa, Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Kahfi : 110)Ayat diatas dengan tegas menyatakan bahwa nabi dan rasul adalah manusia biasa dari segi jasmani yang tidak bisa lepas dari hukum Islam. Mereka bisa lemah, marah, lapar, haus,terluka,sedih dan keterbatasan-keterbatasan lain yang juga dimiliki oleh seluruh manusia.

2. Manqobah anu ka tilu belas nyarioskeun ruksakna jalma anu nyebut jenenganSayyid Abdul Qadir henteu gaduh wudhu.Dicarioskeun dina kitab Kanzun Al Ma’ani dina nembean Sayyid Abdul Qadir kenging pangkat kawalian, anjeuna kabulen ku sipat jalaliyah tegesna sipat kagagahan. Tina margikitu jenenganana oge kalintang ahengna sahingga upami jenenganana disebat henteukalawan adab nyaeta henteu gaduh wudhu maka pegat beuheungna jalma anu nyebat henteugaduh wudhu tea. Saparantos kitu Sayyid Abdul Qadir tepang sareng kanjeng Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam Dawuhan kanjeng nabi : “Hei Abdul Qadir eta pagawean maneh ulahdipigawe, karunya kajalma-jalma di akhir jaman sabab jaga mangpirang-pirang jalma anunyebut jenengan Allah jeung ngaran kami oge henteu make adab. Teras eta padamelan kuSayyid Abdul Qadir ditilar.

Terjemah :

Mangobah yang ketiga belas menceritakan binasanya orang yang menyebut nama Sayyid Abdul Qadir tidak berwudhu.Diceritakan dalam kitab Kanzun Al Ma’ani k etika Sayyid Abdul Qadir baru menerima pangkat ke-walian, beliau di karuniai sipat jalaliyah yakni sipat kegagahan. Oleh karena itu maka nama beliaupun menjadi sangat luar biasa, sehingga jika nama beliau di sebut dengan tanpa adab yaitu tidak berwudhu maka putuslah leher orang yang menyebutnya tersebut. Lalu Sayyid Abdul Qadir bertemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah bersabda : “Hai Abdul Qadir , pekerjaanmu itu jangan dikerjakan lagi, kasihan orang-orang diakhir jaman,sebab nanti di akhir zaman kebanyakan manusia tidak mau manggunakan adab ketika menyebut nama Allah dan namaku.”Kemudian pekerjaan tersebut ditinggalkan oleh Sayyid Abdul Qadir.

Komentar :

Dalam manqabah ini kita bisa melihat beberapa pernyataan yang bertolak belakang dengan dalil aqli maupun naqli, yaitu : Sifat jalaliyah atau kegagahan disyaratkan sebagai karomah bagi seorang wali. Karomah seringkali di identikan dengan kehebatan dan keluar-biasaan termasuk didalamnya sifat kegagahan atau kesaktian.Padahal pengertian karomah yang sebenarnya adalah penghormatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada orang mu’min yang diberikan kelak di akhirat,sebagaimana firman Nya :”Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karenak esabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnya.” (QS. Al-Furqan: 75)Inilah karomah sejati yang dianugerahkan kepada wali-wali Allah, sebagai hadiah dari kesabaran. Wali adalah orang yang paling tabah menghadapi ujian, istiqomah dalam sabar baik dalam melaksanakan perintah Allah maupun sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’alaKehebatan nama makhluk mengalahkan kehebatan nama Sang Pencipta.Pernahkah kita mendengar ada orang yang putus lehernya gara-gara menyebut Nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa berwudhu ?

Sungguh Allah Maha Gagah namun tidak pernah menzalimi hambaNya betapapun si hamba bergelimang dosa. Nama Allah senantiasa didengungkan oleh segenap makhluk di alam semesta melalui tasbih dengan bahasanya masing-masing.Nama-Nya boleh disebut oleh siapa saja, baik berwudhu ataupun tidak.Artinya :”Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan dibumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S.An Nur:4l)Allah Maha Mengetahui siapakah diantara hambaNya yang berwudhu dengan yang tidak ketika menyebut Nama-Nya, namun Dia tidak membuat diskriminatif dengan mencopot kepala orang yang tidak berwudhu.

3. Manqabah ka opat welas nyarioskeun jalma anu Hadiyah ka Sayyid AbdulQadir dihasilkeun maksudna.Dicarioskeun ku guru-guru anu linuhung, saha-saha jalma anu nyebut jenengan SayyidAbdul Qadir henteu boga wudhu maka eta jalma ku Allah di rupekkeun rejekina sarengsaha-saha jalma anu nazar hadiyah ka Sayidd Abdul Qadir eta kudu dilakonan supaya ulahkasebut jalma bedegong matak kawalat. Sareng saha-saha jalma anu ngahadiahkeun anuamis-amis dina malem jum’at teras maca Fatihah di hadiyahkeun ka Sayyid Abdul Qadir teras kadaharanana dibagikeun ka fakir miskin sarta eta jalma nyuhunkeun syafaat sarengkaromahna Sayid Abdul Qadir dina maksudna tangtu eta jalma meunang pirang-pirangpertulungan ti gusti Allah kalawan karomatna Sayyid Abdul Qadir: Sareng saha-saha anumaca Fatihah rek dahar tuluy di hadiahkeun ka Sayyid Abdul Qadir tangtu eta jalmadibukakeun dikaluarkeun tina kahesean dunya akherat. Jeung sahasaha jalma anu nyebutjenengan Sayyid Abdul Qadir bari boga wudhu tur ikhlas anu sampurna ngagungkeun kaanjeuna maka eta jalma ku gusti Allah dibungahkeun dina eta poe sarta ditebus dosana.

Terjemah :

Manqabah ke empat belas manceritakan orang yang Hadiyah (tawasul) kepada SayyidAbdul Qadir akan dihasilkan segala tujuannya.Telah diceritakan oleh para ularna, yang tinggi ilmunya, barang siapa yang menyebut nama Sayyid Abdul Qadir tanpa berwudhu maka orang tersebut akan disempitkan rizkinya oleh Allah. Barang siapa, yang bernazar hadiyah kepada Sayyid Abdul Qadir maka, harus dilaksanakan agar tidak disebut sebagai orang yang sombong dan durhaka.

Dan barang siapa, yang mempersembahkan yang manis-manis pada malam Jum’at lalu membaca Fatihah dihadiahkan kepada Sayyid Abdul Qadir kemudian makanannya dibagikan kepada fakir miskin serta, orang tersebut meminta, syafaat dan keramatnya Sayyid Abdul Qadir pasti orang tersebut mendapat pertolongan dari Allah dengan sebab karomahnya Sayyid Abdul Qadir. Barang siapa yang membaca, Fatihah ketika akan makan lalu dihadiahkan kepada Sayyid Abdul Qadir pasti orang tersebut dibukakan dandikeluarkan dari kesulitan-kesulitan dunia dan akhirat.

Barang siapa, yang menyebut nama,Sayyid Abdul Qadir dengan berwudhu dan memiliki keihlasan yang sempuma, untuk mengagungkan beliau maka orang tersebut akan dibahagiakan pada, hari itu oleh Allah dandiampuni dosa-dosanya.

Komentar:

Di beberapa daerah masih ada, masyarakat yang mengamalkan mankobah ini. Setiap,malam Jum’at mereka membuat sesajian dari makanan yang manis-manis lalu mengundang ustadz atau tokoh agarna, setempat untuk membacakan buku manakib dan bertaswasul kepada, Syekh Abdul Qadir. Mereka sangat meyakini bahwa dengan melaksanakan hal yang demikian maka segala, hajat dan cita-citanya akan terkabul berkat syafaat dan karomah dari Sayyid Abdul Qadir. Pembacaan manaqib ini seakan telah menjadi kewajibanyang mesti dilaksanakan baik setiap jum’at, setiap sebulan, setiap, tahun atau paling tidak seumur hidup, sekali, karena, orang yang tidak pernah membaca manakib dan bertawasul kepada Syekh Abdul Qadir akan dipandang sebagai manusia yang sombong dan durhaka. Benarkah demikian ?

Jika dipandang dengan kaca mata aqidah ahlussunah pernyataan yang terdapat dalam mankabah yang ke empat belas tersebut jelas sesat dan menyesatkan karena :

• Wudhu hanya disyariatkan untuk syarat syah pelaksanaan ibadah shalat.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, …” (QS. Al-Maidah:6)

Adapun berwudhu ketika membaca Al’Qur-an, saat berdzikir, waktu i’tikaf dan sebagainya,hal itu terkait dengan fadhailul Amal, namun dalam pelaksanaannya harus tetap mengacu kepada, dalil-dalil yang jelas.

• Meluaskan dan menyempitkan rezeki adalah mutlak hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa harus menggantung sebab kepada kekeramatan seseorang.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya : ”Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nyadan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ”Didalam ayat lain bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan bahwa kadar pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai dengan apa yang diusahakan manusia : ”Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An- Najm : 39)

• Mempersembahkan yang manis-manis (makanan/minuman) untuk Sayyid Abdul Qadir tiap malam Jum’at adalah penyimpangan ibadah yang sangat jauh, karena seluruh bentuk persembahan hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini termaktub dalam Al Qur-an Surat Al Fatihah ayat 5 “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS,-Al- atihah:5)

Sesungguhnya ruh orang yang telah meninggal sudah tidak lagi membutuhkan persembahan berupa makanan dan minuman, yang mereka butuhkan adalah do’a dari orang-orang yang masih hidup. Mempersembahkan makanan dan minuman untuk ruh orang yang telah meninggal, sudah dilakukan oleh para penyembah berhala jauh sebelum Islam datang memberi pencerahan. Kaum animisme mempercayai bahwa ruh nenek moyang yang telah meninggal memiliki kekuatan luar biasa dan dapat membantu menyelasaikan segala persoalan yang mereka hadapi. Menurut mereka, agar ruh nenek moyang memberikan bantuannya maka, mereka mengadakan ritual berupa upacara, persembahan sesajian.

Terhadap hal yang demikian, Islam teramat sangat menentangnya bahkan dalam Al Qur-an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menegaskan haramnya makanan yang telah dipersembahkan untuk berhala, sebagaiman firman Nya :” Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk,dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itujanganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telahKusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dantelah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparantanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

• Sesungguhnya pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kepada seseorang adalah atas kehendak-Nya sendiri tanpa ada, ketergantungan terhadap karomah seorang wali atau bahkan mukjizat seorang nabi sekalipun. Allah Subhanahu Wa Ta’ala, adalah Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri yang kehendak dan kekuasaan Nya tidak karena, paksaan atau rayuan daripihak manapun.

Pertanyataan dalam manqabah ke empat belas yang berbunyi : ”serta orang tersebut meminta syafa’at dan keramatnya Sayyid Abdul Qadir pasti orang tersebut mendapat pertolongan dari Allah dengan sebab karomahnya Sayyid Abdul Qadir Barang siapa yang membaca Fatihah ketika akan makan lalu dihadiahkan kepada Sayyid Abdul Qadir pasti orang tersebut dibukakan dan dikeluarkan dari kesulitan-kesulitan dunia dan akhirat.

Barangsiapa yang menyebut nama Sayyid Abdul Qadir dengan berwudhu dan memiliki keikhlasan yang sempurna untuk mengagungkan beliau maka orang tersebut akan dibagikan pada hari itu oleh Allah dan diampuni dosa-dosanya. Disindir oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya : “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Q.S. 2:165)

4. Manqabah ka tujuh belas nyarioskeun Sayyid Abdul Qadir ngarebut nyawa khadamna (pembantu/pelayan) ti Malakal Maut.Dicarioskeun ku Abi ’Abbas Ahmad Rifa’i, salah sawios khadamna Sayyid Abdul Qadir maot, teras pamajikanana ngadeuheus ka Sayyid Abdul Qadir sarta keukeuh nyuhunkeunsalakina hayang hirup deui. Ti dinya teras Sayyid Abdul Qadir muroqobah. Maka ningalianjeuna dina alam batin malakul maut keur hanjat ka langit nyandak ruh anu dicabut dinapoe eta diwadahan dina wadah ma’nawi sarupi zanbil.

Dawuhan Abdul Qadir :”Malaku Maut … eureun heula, jeung kadieukeun nyawa bujang kaula si Anu ngarana!”. Saur Malakul Maut : ”Moal tiasa masihkeun, margi kaula nyabutan ruh teh lain sakarep kaulatapi kalawan parentahan Pangeran sarta kudu di setorkeun ka Anjeun Na. “Dawuhan Sayyid Abdul Qadir : ”Enya … kaula ge terang, tapi eta nyawa bujang kaulakadieukeun bae.”Saur Malakul Maut : ”Moal tiasa…” Keukeuh anu nyuhunkeun, keukeuh anu henteu maparinkeun. Tungtungna dawuhan SayyidAbdul Qadir : ”Kalawan ka mahabbahan kaula ka Gusti Allah kadieukeun eta ruh bujangkaula!” Bari teras wadah ruh teh direbut ke Sayyid Abdul Qadir, teras di ucutkeun, atuh budal sadayana ruh. Anu kenging nyabutan ti isuk teh laleupasan baralik deui kana jasadna.Ti dinya teras Malakul Maut unjukan ka Gusti Allah Anu Maha. Suci, piunjukna :”Gusti, Gusti langkung uninga kana kaayaan kakasih Gusti, Wali Gusti Abdul Qadir.Dawuhan Gusti Allah : ”Enya … Abdul Qadir teh kakasih Aing, bongan ruh bujangna kumaneh henteu dibikeun jadi bae ruh anu sakitu lobana mawur. Ayeuna mah maneh hanjakalhenteu di bikeun.”

Terjemah :

Diceritakan oleh Abi Ahmad Rifa’i, salah seorang khadam (pembantu) Sayyid Abdul Qadir meninggal, kemudian isteri dari pembantu tersebut menghadap kepada Sayyid Abdul Qadir dan meminta agar suaminya dapat hidup kembali. Kemudian Sayyid Abdul Qadir melakukan muqarrabah. Maka beliau melihat di alam batin malaikat maut sedang naik kelangit membawa ruh yang dicabut pada hari itu ditempatkan dalam wadah ma’nawi berbentuk Zanbil.Kata Sayyid Abdul Qadir : ”Malaikat Maut.. berhenti dulu dan kesinikan nyawa pembantuku yang bernama si Anu.”

Kata Malaikat Maut :” Tidak bisa, sebab saya mencabut ruh bukan karena keinginan sendiri, melainkan atas perintah Allah dan harus dilaporkan kepada Nya.”

Kata Sayyid Abdul Qadir : ”Aku juga mengerti.. tapi ruh pembantuku kembalikan saja.”

Malaikat Pencabut nyawa berkata ”Tidak bisa”

Keduanya saling bersikukuh. Akhirnya Sayyid Abdul Qadir berkata Dengan kemahabbahan diriku kepada Allah, kembalikan ruh pembantuku..!”

Kemudian Sayyid AbdulQadir merebut tempat ruh dari tangan Malaikat Maut, lalu ditumpahkan. Akibatnya seluruh ruh lepas dan kembali ke jasadnya masing-masing. Malaikat maut kemudian melapor kehadirat Allah :”Ya Tuhanku, Engkau lebih tahu terhadap keadaan kekasihmu, wali Abdul Qadir. Tuhan berfirman : ”Betul, Abdul Qadir itu memang kekasih-Ku. Karena kamu tidak mau mengembalikan nyawa pembantunya kibatnya seluruh ruh jadi kabur.

Komentar :

Jika kita mau bersikap objektif dan mengembalikan semua persoalan ghaib pada kedudukan yang sebenarnya, maka kita akan menemukan kejanggalan yang sangat bertentangan dengan sunatullah (Al Qur-an dan Al Hadits), di antaranya:

Terjadinya perebutan nyawa oleh Sayyid Abdul Qadir dari tangan malaikat maut (Izrail), Kembalinya seluruh ruh kepada jasadnya setelah lepas dari tempat ruh, padahal kematian seseorang telah ditetapkan waktu ajalnya tanpa bisa dimajukan atau dimundurkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :”Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Munafiqun)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan pernah mengundurkan kematian seseorang yang telah tiba masanya tanpa kecuali, karena qada dan qadar tidak bisa ditolak dengan pangkat dan derajat setinggi apapun. Hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu permanen (absolut) tiada yang bisa merubahnya walau seorang wali bahkan seorang rasul sekalipun.

Dalam manqabah di atas, Allah cenderung menyalahkan malaikat yang tidak mau mengembalikan ruh pembantunya Sayyid Abdul Qadir. Di sini tergambar betapa sangat kuatnya karakter karomah Sayyid Abdul Qadir dibanding dengan malaikat pencabut nyawa. Bahkan Allah seperti merelakan hukum-Nya dirubah sekehendak makhluk Nya.

5. Manqabah ka salapan belas nyarioskeun salametna hiji jalma fasiq kujawabanana : ”Abdul Qadir” ka Malaikat Munkar wa Nakir.Kacarioskeun dina jaman Sayyid Abdul Qadir, aya hiji jalma fasiq tapi eta jalma kacidamahabbahna ka Sayyid Abdul Qadir. Sanggeus eta jalma maot, di sual ku malaikat Munkar wa Nakir. Henteu aya deui jawabna eta jalma ngan ”Abdul Qadir”. Tidinya sumpingtimbalan ti Gusti Allah : ”Hei Munkar wa Nakir, eta jalma bener fasiq siksaeun, tapikulantaran manehna mahabbah ka kakasih Aing, ayeuna dihampura ku Aing.

Terjemah :

Manqabah ke sembilan belas menceritakan selamatnya seorang manusia seorang manusia yang fasiq dengan menjawab Abdul Qadir kepada malaikat Munkar dan Nakir.Diceritakan pada jaman Sayyid Abdul Qadir, ada seorang yang fasiq namun orang tersebut sangat mencintai Sayyid Abdul Qadir. Setelah si fasiq itu mati, dia ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur. Tidak ada jawaban yang lain, kecuali ”Abdul Qadir”. Lalu datang Wahyu dari Allah :”Wahai Munkar dan Nakir, orang itu memang orang fasik dan harus disiksa. Namun berhubung dia sangat mencintai kekasih Ku (Abdul Qadir), maka sekarang orang itu Aku maafkan.”

Komentar :

Kalau dibaca secara sepintas, kalimat di atas sepertinya mengandung kebenaran. Dua pihak yang saling mencintai tentu akan saling merelakan.

Allah ridho memaafkan dosa seorang fasiq karena orang tersebut mencintai kekasih Allah.Tapi perlu diingat, bahwa cinta Allah itu pasti bersama keadilan Nya. Artinya barang siapa yang mengerjakan kebaikan walau seberat atom pasti akan mendapatkan pahalanya, sebaliknya bagi mereka yang mengadakan kejahatan walau seberat atom pasti akan mendapat balasan kejahatan yang setimpal. Apalagi ini sebuah kafasikan atau kemunafikan.Logikanya jika orang fasiq dalam cerita diatas hanya mengatakan ”Abdul Qadir” tiada yang lain berarti dia akan mengatakan , ”aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Abdul Qadir dan Abdul Qadir itu adalah utusan Allah”.Atau ia akan menjawab dengan mengatakan ”Abdul Qadir” ketika di ajukan pertanyaan Siapa tuhanmu. ? jawabnya Abdul Qadir

Siapa nabimu ? jawabnya Abdul Qadir

Siapa imammu ? ia juga akan menjawab Abdul Qadir.

Nah, aqidah semacam apakah ini ? Sementara dalam manqabah diatas Allah memaafkan orang fasiq tersebut yang selalu menjawab dengan menyebut nama Abdul Qadir. Seandainya hal ini bisa terjadi tentu akan ada jutaan orang fasiq yang selamat dari azab asal dia bisa menjawab dengan nama Abdul Qadir.Bukankah pernyataan seperti ini sangat bertentangan dengan kalimah tauhid baik dari segi dzahir maupun maknanya? Alangkah sangat berbahayanya jika aqidah semacam ini tertanam kuat ditengah umat. Mereka akan hidup didalam gelapnya taqlid, menyimpang jauh dari arah yang ditunjukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui Al-Qur’an dan sunnah rasul. Sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memiliki sandingan dan tandingan dalam Dzat, Sifat, Asma, dan Perbuatan Nya.

KEMBALI KEPADA AQIDAH YANG LURUS

Wali adalah manusia biasa, walaupun memiliki kedudukan terhormat di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala namun tidak boleh dikultuskan hingga kedudukannya seakan menyaingi keberadaan Sang Pencipta.

Iklan

3 Responses to Kitab MANAQIB

  1. Purnama says:

    Sya sangat suju sekali dengan komentar diatas, saya pikir amal yg baik dalam membrikan pwncerahan dlm menelaah masalah kebiasaan yg ada.

  2. anonimous says:

    manqabah yg ke 19.
    mau koreksi, guru saya pernah ceramah ttg orang mati yg ditanyai malaikat munkar nakir.
    maksud dari jwbn orang mati tersebut adalah, yang disembah Abdul qodir adalah Alloh dan nabi Abdul qodir adalah Muhammad SAW. orang mati tersebut memberi perumpaan bahwa semua yg diagungkan Syekh Abdul Qodir al-jailani dia jg agungkan, krn orang mati tsb sangat meneladani Syekh abdul qodir al-jailani makanya dia menjawab tuhannya adalah Abdul qodir dan nabinya adalah Abdul qodir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: