14 Contoh Sikap Hikmah dalam Berdakwah


RESENSI BUKU : 14 Contoh Sikap Hikmah dalam Berdakwah

RESENSI

Buku ini adalah salah satu buah karya dari anak bangsa yang sekarang sedang menuntut ilmu di jurusan Aqidah, Program Pasca Sarjana (S2) Universitas Islam Madînah. Buku ini beliau beri judul ”14 Contoh Sikap Hikmah dalam Berdakwah”. Sebenarnya, buku ini adalah bab ke-10 dari satu rangkaian buku yang sedang beliau susun yang sedianya akan diberi judul ”Menjelaskan Sikap” (Sikap Yang Tepat dalam Menghadapi Problema di Barisan Ikhwah Salafiyyin di Indonesia.) Namun, berhubung beliau diminta untuk memberikan ceramah di Daurah pada bulan Juli 2007 dengan tema ”Hikmah dalam Berdakwah” di Yogya, dan diminta untuk menuliskan makalah, maka bab terakhir dari buku beliau ini akhirnya dipublikasikan terlebih dahulu.

Penulis, dalam buku ini, mencermati perkembangan dakwah salafiyah di tanah air yang semakin ramai dan marak. Namun sayangnya, di sana sini masih saja ada sikap salah kaprah di dalam berdakwah yang menyebabkan dakwah salafiyah ini memiliki image yang buruk di tengah masyarakat. Dan kelemahan dakwah tersebut adalah disebabkan minimnya sikap hikmah para du’at dan penuntut ilmu salafiyah di dalam berdakwah, yang terkesan angker, bengis dan sadis.

Di tengah carut marutnya sikap hikmah sebagian oknum yang menisbatkan diri kepada dakwah salafiyah ini, mendorong penulis untuk memberikan andil sebagai nasehat dan peringatan. Akhirnya, di tengah kesibukan beliau yang padat, beliau bersedia meluangkan waktunya dalam rangka untuk menunaikan kewajiban dan hak di dalam memberikan nasehat dan penjelasan akan sikap hikmah di dalam berdakwah beserta contoh praktisnya.

Buku beliau ini terdiri dari 14 contoh aplikatif dan praktis sikap hikmah di dalam berdakwah, yaitu :

  1. Mengiringi ’aqîdah yang benar dengan akhlâq yang mulia.
  2. Berwajah ceria, menebarkan salam dan menunaikan hak-hak kaum muslimin walaupun mereka memiliki penyimpangan –selama metode hajr (boikot) belum layak untuk diterapkan-.
  3. Mengenal medan dakwah yang akan diterjuni.
  4. Berdakwah secara bertahap, dari yang paling penting lalu melangkah ke hal-hal penting lainnya.
  5. Mengutip perkataan ulama ahlus sunnah yang dikenal dan dihormati masyarakat, dan menghindari penyebutan nama-nama ulama ahlus sunnah yang masyarakat fobi dengannya.
  6. Berdakwah dan beramar ma’ruf serta nahi munkar secara lemah lembut.
  7. Menarik simpati orang yang ditokohkan atau memiliki kedudukan di tengah masyarakat.
  8. Memperhatikan generasi muda dan anak kecil tanpa mengesampingkan orang-orang yang telah lanjut usia.
  9. Menerapkan skala prioritas dalam mengingkari kemungkaran.
  10. Melandasi bantahan terhadap ahli bid’ah dengan ilmu dan dalil bukannya dengan cercaan dan makian.
  11. Tidak harus menyebutkan nama tokoh atau kelompok yang menyimpang ketika mentahdzîr.
  12. Memenuhi permintaan ahli bid’ah untuk mengisi ceramah atau kajian di tempat mereka selama tidak menimbulkan fitnah dan diharapkan mendatangkan maslahat.
  13. Mengikuti kebiasaan masyarakat setempat selama tidak melanggar syariat, seperti tidak tampil beda di dalam berpakaian, memakai celana atau sarung tepat di atas mata kaki, tidak harus di tengah betis, memakai jilbab selain warna hitam, boleh mengimami sholat di dalam mihrab, membaca basmalah secara jelas ketika menjadi imam, mengangkat tangan dan mengamini qunut subuh, dll.
  14. Bersabar dan tidak terburu-buru berharap bisa segera memetik buah dari dakwah.

Kelebihan buku beliau ini, selain menggunakan hujjah dan dalil dari Kitâbullâh, sunnah Rasūlullâh dan ucapan para imâm ahlus sunnah untuk menyokong ke-14 poin di atas, beliau juga memberikan contoh-contoh kongkrit dan praktis dari sikap hikmah di dalam berdakwah.

Untuk lebih bisa dipertanggungjawabkan, beliau meminta beberapa ulama ahlus sunnah di Madînah untuk mengoreksi buku beliau ini. Dan Alhamdulillâh, ada enam masyaikh ahlus sunnah yang bersedia mengoreksi risâlah beliau ini, yaitu :

  1. Syaikh Prof. Ibrâhîm bin ’Âmir ar-Ruhailî hafizhahullâhu (Dosen ’Aqîdah Universitas Islâm Madînah).
  2. Syaikh DR. ’Alî bin Ghâzî at-Tuwaijirî hafizhahullâhu (Dosen Tafsîr Universitas Islâm Madînah).
  3. Syaikh DR. Muhammad bin ’Abdil Wahhâb al-Aqîl hafizhahullâhu (Dosen ’Aqîdah Universitas Islâm Madînah).
  4. Syaikh ’Abdul Mâlik bin Ahmad Ramadhânî al-Jazâ`irî hafizhahullâhu (Da’î di Kota Madînah)
  5. Syaikh DR. Yūsuf bin Muhammad ad-Dakhîl hafizhahullâhu (Dosen Hadîts Universitas Islâm Madînah).
  6. Syaikh DR. Abū Ibrâhîm bin Sulthân Tarhîb ad-Dūsârî hafizhahullâhu (Dosen ’Ushūl Fiqh Universitas Islâm Madînah).

Setelah saya membaca ulasan buku ini dari awal sampai akhir, dan mendengarkan rekaman ceramah yang disampaikan oleh penulis, saya mendapatkan banyak sekali manfaat dan faidah. Saya menyarankan kepada saudara-saudara kaum muslimin untuk membaca buku ini dan memetik manfaat darinya.

Ternyata, kesan atau image angker dan keras para ulama ahlus sunnah tidaklah sebagaimana yang dibayangkan ummat Islâm saat ini. Apabila kita berupaya untuk menelaah semua tulisan dan sikap-sikap mereka, niscaya kita akan mengetahui bahwa para ulama ahlus sunnah itu memiliki sikap hikmah dan lemah lembut di dalam dakwahnya. Hanya saja, beberapa oknum du’at atau thullabul ’ilmi yang berintisâb dengan salafîyah khususnya di tanah air ini, seringkali membawakan sisi keras dan tegasnya saja di dalam berdakwah, dan cenderung melupakan atau melalaikan sisi kelemahlembutan dan sikap hikmah di dalam berdakwah.

Akhirnya, ummat pun mengenal dakwah salafîyah ini sebagai dakwah yang keras, bengis dan melarikan umat dari kebenaran (tanfîr). Hal ini tidak terlepas dari peran sebagian du’at yang berintisâb kepada manhaj salaf yang lebih cenderung bersikap keras menghadapi kesalahan dan kekeliruan. Setiap ada kekeliruan seakan-akan selalu disikapi dengan tahdzîr dan hajr.

Akhirnya, kita dapati fenomena adanya sebagian pemuda yang baru belajar manhaj salaf, atau sudah cukup lama mengaji namun masih dangkal pemahamannya, dibakar dengan semangat dan ghirah yang menggelora, sehingga kesibukan mereka lebih banyak kepada masalah jarh (celaan), tahdzîr, tabdi’, tadhlîl (vonis sesat) dan semisalnya. Maka, tidak heran apabila kita lihat, sebagian dari saudara-saudara kita ini begitu mudahnya menuduh orang lain, ”hizbî”, ”surūrî”, ”sesat dan menyesatkan” dan semisalnya. Lebih parahnya lagi, ada yang kegemaran dan kesibukannya adalah mencari-cari kesalahan dan melakukan investigasi ala detektif hanya untuk memenuhi ambisi untuk mencela (jarh) dan menvonis.

Aduhai, apabila mereka dan kita semua lebih mau untuk menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat dan memperdalam untuk memperlajari manhaj salaf, baik dalam hal ’aqîdah, ’ibâdah, mu’amalah, akhlâq, suluk dan lainnya, niscaya yang demikian itu lebih mulia, lebih utama dan lebih baik.

Saya rasa buku ini, walau kecil bentuknya, namun sarat dengan ilmu dan sangat bermanfaat serta dapat menjadikan nasehat bagi kita semua. Di dalamnya sarat dengan faidah dan manfaat. Sungguh, hanya orang sombong dan berjiwa keji saja yang menolak dan mengingkari nasehat di dalam buku ini, apalagi sampai menuduh bahwa isi buku ini mengajarkan untuk bersikap tamyî’ (bersikap lunak terhadap bid’ah atau kesesatan).

Telah berlalu buku yang ditulis oleh al-Ustâdz Ibnu ’Âbidîn as-Soronjî yang berjudul ”Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan” yang di dalamnya sarat akan nasehat yang berharga. Namun, sebagian kalangan menganggap buku ini sebagai buku yang beracun dan tamyî’,serta menganggapnya membela bid’ah dan ahli bid’ah. Padahal, apabila mereka mau membaca dengan seksama, niscaya mereka akan mengetahui, bahwa penulis buku ini, yaitu al-Ustadz Firanda Ibnu ’Âbidîn, tidaklah sedang membela organisasi apapun, termasuk Ihyâ`ut Turôts.

Beliau hanya memaparkan pendapat ulama di dalam masalah ini yang berbeda dengan sebagian kalangan yang membid’ahkan jum’iyah ini. Namun, dengan zhâlimnya mereka menuduh bahwa al-Ustâdz Firanda membela Ihyâ`ut Turôts dan hizbiyahnya. Bahkan beliau dituduh sebagai orang orang bayaran Ihyâ`ut Turôts, tergiur dengan dinar Kuwait dan tuduhan keji lainnya. Raghmun ’unūfihi.

Ya, seakan-akan slogan mereka adalah… semua yang tidak berasal dari kami maka haram bagi kami menerimanya, dan seakan-akan… siapa saja yang menyelisihi pendapat kami, maka ia musuh kami.

Allôhummâ, ampunilah dosa-dosa kami dan saudara-saudara kami walaupun mereka berbuat aniaya kepada kami. Persatukanlah barisan kami dan janganlah Kau-porakporandakan barisan ahlus sunnah. Muliakanlah kami dengan Sunnah dan muliakanlah Islâm dengan ahlus sunnah. Berikanlah kemenangan dan kejayaan kepada Islâm dan ahlus sunnah, dan hinakanlah kaum kuffâr, zindîq dan ahli bid’ah yang menentang sunnah. Ya Allôh, wafatkanlah kami di atas Islâm dan Sunnah, dan istiqomahkan kami memegang sunnah walaupun berat bagai memegang bara api.

maroji : http://abusalma.wordpress.com/2007/12/31/14-contoh-sikap-hikmah-dalam-berdakwah/

mp3 : http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Zaen/Hikmah%20Dalam%20Berdakwah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: