JARH WA TA’DIL Antara Ghibah dan Menjaga Sunnah (Bag 1)


JARH WA TA’DIL

Antara Ghibah dan Menjaga Sunnah

Oleh: Haidir Rahman Rz

 

Merupakan suatu kesyukuran jika seorang pemuda dianugerahi petunjuk oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk memeluk sunnah. Sunnah yang sangat sulit sekali digenggam oleh sebagian orang, namun karena taufiq dan petunjuk dari Allah hal itu begitu mudah dijalani oleh para pemuda yang semangat dalam menuntut ilmu. Tidak hanya itu, semangat memegang sunnah, menjaga, dan mengajarkannya juga dibarengi dengan semangat memerangi lawan dari sunnah yaitu bid’ah. Tidak jarang kita melihat para ikhwah mengingkari perbuatan-perbuatan bid’ah yang menyelisihi sunnah. Sepulang mengaji, mereka jelaskan kepada keluarga beberapa kekeliruan masyarakat yang selama ini sudah mendarah daging. Dari tangan mereka, ada banyak orang yang akhirnya sadar akan kekeliruan yang mereka lakukan.

Melihat fenomena ini saya teringat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam tentang 7 golongan yang akan mendapat naungan di hari akhir nanti. Salah satu diantara mereka adalah “syaabun nasya’a fi ibadatillah”  yaitu pemuda yang menghabiskan masa mudanya untuk beribadah[Muttafaqun ‘alaih]. Tidak dipungkiri lagi bahwa menjaga sunnah dan memerangi bid’ah adalah ibadah yang sangat mulia.

Di tengah rasa syukur ini, ada beberapa hal yang saya sayangkan. Sering saya dapati, karena sangking bencinya seorang pemuda ahlussunnah kepada seorang yang dikenal sebagai ahli bid’ah, akhirnya dia dengan seenaknya saja menceritakan aib-aib lainnya yang ada pada diri ahli bid’ah tersebut. Bahkan ada di antara ahli bid’ah tersebut yang sudah bertaubat namun masih saja dia ceritakan kepada khalayak ramai bahwa taubatnya hanya pura-pura. Kita sepakati bersama bahwa membenci ahli bid’ah adalah perkara yang disyariatkan. Namun apakah kebencian kita terhadap ahli bid’ah merupakan suatu legalisasi bahwa kita boleh menyebarkan aibnya yang lain(yang tidak ada hubungannya dengan bid’ah yang dilakukannya)?

Misalnya, ketika kita ingin mengingatkan masyarakat agar hati-hati dengan seorang dai ahli bid’ah. Kita mengatakan: “siapa Ustadz Fulan itu?(dengan nada mengingkari) Waktu SMP dulu dia gk naik kelas dua kali.” Apa hubungannya naik kelas dengan bid’ah yang dilakukannya? Jika dia memang menyebarkan bid’ah peringatkan masyarakat akan bid’ahnya saja. Adapun aib-aib lainnya kita wajib untuk menyembunyikannya.

Berangkat dari fenomena ini. Saya memandang perlunya para ikhwah Salafiyyin untuk mempelajari ilmu Jarh wa Ta’dil. Agar kita bisa membedakan mana ghibah yang dibolehkan dan mana yang dilarang. Agar semangat menjaga sunnah tidak ternodai oleh ghibah yang diharamkan. Maka dari itu saya menghadirkan tulisan ini, untuk mengenalkan kepada ikhwah-ikhwah hakikat, maksud, dan tujuan ilmu Jarh wa Ta’dil.

 

Apa itu Ilmu Jarh wa Ta’dil?

            Jarh wa Ta’dil adalah salah satu cabang ilmu mushthalahul hadits yang disusun untuk meneliti keadaan seorang perawi hadits. Dengan ilmu ini para ulama hadits meneliti seorang perawi apakah riwayat haditsnya bisa diterima atau tidak. Secara bahasa bisa kita artikan; Celaan dan Pujian. Singkatnya dalam ilmu Jarh wa Ta’dil kita belajar untuk mencela perawi dan memuji mereka. Celaan bukan sembarang celaan tapi celaan yang bertujuan menjaga sunnah.

 

Pengetian Jarh

Asal kata Jarh berarti luka atau melukai. Seorang yang mencela berarti dia telah melukai dan menyakiti hati dan perasaan orang yang dicelanya. Namun secara istilah, Jarh yang dimaksud dalam ilmu ini adalah:

وصف الراوي في عدالته أو ضبطه بما يقتضي تليين روايته أو تضعيفها أو ردها

Artinya:

Sifat seorang perawi dalam hal ‘adalah atau dhabt-nya yang menyebabkan riwayatnya di-talyin, dilemahkan atau bahkan ditolak. [Dhawabit Jarh wa Ta’dil, hal: 23]

 

Pengertian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Dalam ilmu Jarh wa Ta’dil sifat-sifat yang dibahas hanya sifat-sifat yang berkaitan dengan sisi agama seorang perawi dan hafalannya. Sifat-sifat yang berkaitan dengan sisi agama dan ketakwaannya disebut ‘adalah. Sedangkan sifat-sifat yang berkenaan dengan hafalannya disebut dhabt. Terkadang ada perawi yang sisi agamanya bagus namun sisi hafalannya jelek. Sebaliknya, ada yang hafalannya bagus namun dia melakukan perkara-perkara bid’ah.

Nah, yang dimaksud jarh adalah sifat-sifat yang apabila terdapat dalam diri seorang perawi, sifat-sifat tersebut akan menyebabkan hadits-hadits yang diriwayatkannya tidak diterima. Jika dikatakan perawi tersebut di-jarh, artinya sifat-sifat yang dimiliki perawi tersebut ditunjukkan kepada khalayak ramai agar orang-orang berhati-hati dengan riwayatnya. Tidak diterima bukan berarti ditolak mentah-mentah. Ada tiga tingkatan tidak diterimanya riwayat seorang perawi:

1. Jarh yang lemah.

Jika seorang perawi disifati dalam tingkatan ini, riwayatnya tidak boleh diterima namun tidak juga serta merta ditolak. Artinya perlu penelitian lebih lanjut. Inilah yang dimaksud dengan istilah talyin dalam definisi di atas. Riwayat yang di-talyin, tidak ditolak dan tidak juga diterima. Namun harus diteliti lebih lanjut. Biasanya perawi dalam tingkatan ini disifati dengan istilah “Shaduq sayyi’ul hifzi” maksudnya adalah, dari segi agamanya bagus namun hafalannya jelek.

2. Jarh yang kuat.

Perawi yang disifati dalam tingkatan ini, riwayatnya akan dilemahkan. Biasanya perawi yang memiliki sifat ini akan disifati dengan istilah dhaif atau lemah. Nah untuk tingkatan ini, masih ada harapan untuk menerima riwayatnya asalkan ada riwayat atau indikasi lain yang menguatkannya.

3. Jarh yang sangat kuat. Jika perawi sudah disifati dengan sifat ini, riwayatnya wajib ditolak. Contohnya adalah istilah kadzab (pendusta), wadha’(pemalsu hadits).

Nah. ketiga tingkatan inilah yang dimaksud didalam definisi di atas “di-talyin, dilemahkan, atau ditolak

 

Pengertian Ta’dil      

Ta’dil berasal dari kata ‘adl atau adil. Asal kata adil berarti diridhai, disenangi, atau dipercaya. Seorang yang adil biasanya masyarakat akan rela dan ridha dipimpin oleh orang tersebut. Nah, di dalam ilmu Jarh wa Ta’dil seorang perawi yang adil berarti bahwa orang-orang percaya dan rela jika dia meriwayatkan sebuah hadits. Seorang perawi yang adil harus memenuhi lima syarat:

-Islam

-Baligh

-Berakal

-Selamat dari perbuatan-perbuatan fasik dan maksiat.

-Selamat dari akhlak yang buruk. [Lihat Muqaddimah Ibnu Shalah, hal: 68]

Hal ini bukan berarti perawi yang adil tidak melakukan dosa dan kesalahan sama sekali. Karena perawi juga manusia yang tidak luput dari kesalahan. Namun yang dimaksud di dalam syarat tadi adalah perawi tersebut sangat jarang melakukan perbuatan fasik. Walaupun ada, itu karena dia lengah dan karena tabiatnya sebagai manusia biasa. Maka pengertian ta’dil dapat kita definisikan sebagai berikut:

وصف الراوي في عدالته وضبطه بما يقتضي قبول روايته

Artinya:

Sifat-sifat seorang perawi dalam hal ‘adalah dan dhabt-nya, yang menyebabkan riwayatnya boleh diterima. [Dhawabit Jarh wa Ta’dil, hal: 24]

Dengan demikian pengertian ta’dil adalah kebalikan dari pengertian jarh. Seorang perawi yang bagus dari sisi ‘adalah(agama) dan dhabt (hafalan) inilah yang disebut perawi yang tsiqah. Tidak hanya shalih dan bertakwa, namun perawi yang tsiqah juga memiliki hafalan yang kuat. Hadits-hadits yang mereka riwayatkan disebut hadits shahih. Adapun perawi yang bagus sisi agamanya namun kurang baik hafalannya perawi ini biasanya disebut shaduq. Dan riwayat haditsnya menduduki peringkat hadits hasan. Bedakan antara Shaduq saja dan Shaduq sayyi’ul hifzi. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Shaduq sayyi’ul hifzi hafalannya jelek sedangkan shaduq hafalannya kurang baik. Namun dari segi ketakwaan mereka sama-sama shalih.

JARH WA TA’DIL Antara Ghibah dan Menjaga Sunnah (Bag 2)

Iklan

One Response to JARH WA TA’DIL Antara Ghibah dan Menjaga Sunnah (Bag 1)

  1. Ping-balik: Jarh wa Ta’dil antara Ghibah dan Menjaga Sunnah (bag 2) « ARIF FACHRUDIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: