Jarh wa Ta’dil antara Ghibah dan Menjaga Sunnah (bag 2)


Jarh wa Ta’dil antara Ghibah dan Menjaga Sunnah (bag 1)

JARH WA TA’DIL

Antara Ghibah dan Menjaga Sunnah

Oleh: Haidir Rahman Rz

Dasar hukum Jarh wa Ta’dil

            Ilmu Jarh wa Ta’dil merupakan wujud pengamalan dari perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk meneliti kabar yang sampai kepada kita. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang seorang fasik kepadamu membawa suatu berita maka telitilah terlebih dahulu berita tersebut. Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah terhadap suatu kaum karena ketidaktahuanmu. Yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu. [Al-Hujurat: 6]

Mayoritas ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Al-Walid bin Uqbah radhiyallahu ‘anhu. Siapakah beliau? Beliau adalah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam yang ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam untuk mengumpulkan zakat Bani Musthaliq yang baru masuk Islam. Ketika beliau pergi ke pemukiman Bani Musthaliq untuk mengambil zakat dari mereka. Beliau merasa takut, jangan-jangan Bani Musthaliq enggan mengeluarkan zakat. Akhirnya beliaupun kembali pulang dan mengabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bahwa Pemimpin Bani Musthaliq menolak saya dan enggan membayar zakat. Mendengar berita ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam marah. Kemudian diutuslah pasukan untuk memerangi Bani Musthaliq. Setibanya di pemukiman, pimpinan pasukan menanyakan apakah benar kalian tidak mau membayar zakat? Harits bin Dhirar  radhiyallahu ‘anhu sebagai pimpinan kabilah Bani Musthaliq membantah tuduhan itu. “Kami sudah menunggu utusan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, namun dia tidak juga datang. Demi Allah belum ada seorangpun yang datang kepada kami untuk mengambil zakat kami.” Kemudian turunlah ayat tersebut yang memerintahkan kita untuk meneliti kebenaran suatu berita.

[Untuk lebih jelas lagi silahkan merujuk kisah ini ke Kitab Musnad Ahmad bin Hambal rahimahullah, Hadits Al-Harits bin Dhirar radhiyallahu anhu, no: 18956].

Di dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan seorang fasik yang membawa berita. Orang fasik itu tidak lain adalah Al-Walid bin Uqbah radhiyalahu ‘anhu yang telah membawa berita dusta tentang Al-Harits bin Dhirar radhiyallahu ‘anhu. Beliau divonis fasik oleh Allah karena berita dusta yang disampaikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.[lihat Tafsir Al-Qurthubi,16/311]. Namun bagaimana sikap kita?, sementara beliau adalah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Syaikhul Islam Ibnu Hajar rahimahullah memiliki perkataan yang sangat indah dalam menyikapi permasalahan ini. Beliau mengatakan di akhir tarjamahnya dalam kitabnya Tahdzibut Tahdzib:

“Beliau telah terbukti sebagai seorang sahabat (Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam), beliaupun juga memiliki dosa yang mana perkara tersebut merupakan urusan Allah. Sikap yang benar adalah diam (dan tidak berkomentar tentang hal tersebut*pen)”. [Tahdzibut Tahdzib, 11/125, tarjamah Al-Walid bin Uqbah].

Secara zhahir ayat ini memerintahkan kita untuk meneliti berita yang disampaikan oleh orang fasik. Pemahamannya adalah kita tidak perlu lagi meneliti jika yang menyampaikan bukan orang fasik. Atau jika kita meneliti kebenaran suatu berita, berarti kita telah menganggap orang yang menyampaikannya fasik. Apakah anggapan ini benar? Tidak, anggapan ini sama sekali tidak benar. Ayat ini berlaku umum baik itu terhadap orang fasik maupun bukan fasik. Karena kita tidak bisa memvonis setiap orang apakah dia fasik atau tidak. Hal ini juga berdasarkan kaidah “Al-Ibrah bi umumil lafzhi la bikhushushis sabab”  artinya yang jadi patokan adalah keumuman redaksi bukan kekhususan sebab turunnya ayat. Ayat ini turun berkenaan khusus bagi Al-Walid bin Uqbah, namun ayat ini berlaku umum bahwa seorang muslim harus meneliti kebenaran suatu berita dan tidak terburu-buru dalam menerimanya. Apa dalilnya? Diantara dalil yang menunjukkan bahwa perintah berhati-hati dalam menerima berita tidak ditujukan khusus terhadap berita orang fasik saja adalah Hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang adab izin tiga kali ketika bertamu. Ada peristiwa menarik yang patut kita ambil pelajaran darinya. Yaitu ketika Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu meminta izin bertamu di rumah Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, setelah tiga kali izin beliaupun akhirnya pulang dan meninggalkan rumah sang Khalifah. Namun tiba-tiba saja sang Khalifah membukakan pintu. Beliau heran dan bertanya, “mengapa kamu pergi?”. Abu Musa Al-Asy’ari menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan demikian, jika salah seorang diantara kita bertamu dan telah meminta izin tiga kali namun tidak dijawab maka dia harus pergi”. Mendengar penuturan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu. Sang Khalifah mengatakan, “kamu harus mendatangkan buktinya!” Ayo kita temui para sahabat yang lain. Setelah menemui para sahabat yang lain. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada Khalifah Umar bin Khatab radhiyallahu anhu, “wahai khalifah, yang menyaksikan hadits tersebut adalah seorang yang usianya lebih muda daripada kita”. Maka berdirilah Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa beliau juga mendengar hadits tersebut dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. [HR. Bukhari, no: 5245, bab salam dan izin tiga kali]

Dari kisah di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa ayat tadi tidak ditujukan khusus bagi berita orang fasik saja. Kalaulah benar ayat tadi hanya berlaku bagi berita yang dibawa orang fasik saja, tentunya Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu tidak perlu  menanyakan bukti kebenaran hadits itu. Karena Abu Musa Al-Asy’ari adalah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam yang memiliki keutamaan dan jauh dari sifat orang-orang fasik. Tapi kenyataannya beliau malah meminta bukti kebenaran hadits tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak memahami ayat tadi khusus hanya berlaku bagi berita yang di bawa orang fasik saja. Kemudian sikap Sang Khalifah ini bukan berarti sebuah tuduhan bagi Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau adalah seorang yang fasik. Hal ini beliau jelaskan sendiri dalam riwayat lain. Beliau mengatakan, “aku tidaklah menuduhmu berdusta namun aku hanya khawatir ada orang yang berkata-kata sembarangan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam”.[HR. Abu Dawud, no:5186].

Kisah ini juga mengajarkan kepada kita umat muslim agar tidak terburu-buru menerima kabar dari seseorang yang tidak ada buktinya. Kabar tanpa bukti inilah yang sering menjadi penyebab perpecahan di kalangan umat. Saya teringat ketika berdiskusi dengan seorang ikhwah. Ikhwah tersebut memvonis seseorang sebagai ahli bid’ah. Ketika saya tanyakan mengenai buktinya, dia hanya menghadirkan perkataan seorang ustadz yang juga tanpa bukti. Kemudian dia beralasan bahwa “kita harus mempercayai ustad tersebut. Jika tidak, sama halnya kita menuduh Ustadz tersebut sebagai seorang yang fasik. Karena menanyakan bukti hanya belaku bagi berita yang di bawa seorang fasik“(saya hanya menukil maknanya saja adapaun redaksi aslinya saya lupa). Sikap tersebut tidak mencerminkan sikap seorang penuntut ilmu yang mencari kebenaran. Sikap tersebut tidak ada bedanya dengan sikap orang awam yang bersikeras mempertahankan budaya nenek moyang yang  tidak ada ajarannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Sering kita dengar masyarakat awam, beralasan “loh Ustadz fulan membolehkan acara seperti itu kok“, atau ada yang mengatakan, “Kiayi saya yang mengajarkan, masa sih kiayi saya mengajarkan yang salah“. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari sikap seperti ini.

Nah, ayat inilah yang mendasari para ulama untuk menggagas ilmu Jarh wa Ta’dil. Jika berita biasa yang berkenaan dengan seseorang atau suatu kaum saja, kita diperintahkan untuk berhati-hati mempercayainya. Maka, berita yang menyangkut urusan agama lebih utama untuk hati-hati di dalamnya. Para ulama akhirnya mengambil sikap selektif dan hati-hati untuk menerima suatu hadits. Hal ini dinukilkan oleh Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah , beliau mengatakan:

“Pada awalnya para ulama tidak menanyakan isnad. Akan tetapi setelah terjadinya fitnah mereka mengatakan: Sebutkan orang-orang( yang meriwayatkan hadits) kalian. Merekapun melihat (para perawinya), jika perawinya Ahlussunnah maka haditsnya diterima, dan jika perawinya ahli bid’ah maka haditsnya ditolak”.[HR. Muslim, no: 27, bab bahwasanya isnad adalah bagian dari agama]

Fitnah yang dimaksud Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah adalah fitnah pembunuhan Khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Fitnah ini terjadi akibat kedustaan yang disebarkan Abdullah bin Saba.

 

Antara ghibah dan menjaga sunnah

            Siapa sih yang senang disebut sebagai pendusta? Siapa juga yang rela jika dirinya dikenal sebagai ahli bid’ah? Meskipun seorang ahli bid’ah senang melakukan kebid’ahannya saya tidak yakin kalau dia senang disebut ahli bid’ah. Namun, jika seorang ahlussunah hanya berdiam diri, tidak memperingatkan khalayak ramai akan bahaya bid’ah yang disebarkannya, agama ini akan rusak. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah mengatakan:

إِذَا سَكَتَّ أَنْتَ وَسَكَتُّ أَنَا فَمَتَى يَعْرِفُ الجَاهِلُ الصَّحِيحَ مِنَ السَّقِيمِ

Jika anda diam dan sayapun diam, maka kapan orang-orang jahil bisa membedakan hadits shahih dan hadits lemah? [Diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ Li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’, no: 1617].

Di satu sisi kita harus menjaga kehormatan seorang muslim, dengan tidak membeberkan aibnya dihadapan umum dan berusaha menyembunyikan kejelekannya. Namun sisi lain, jika kita tidak memberitahu masyarakat kejelekan orang tersebut, agama ini akan rusak. Karena kejelakan atau kemunkaran yang diperbuatnya berkenaan dengan agama. Contohnya seorang perawi yang hafalannya jelek. Ketika meriwayatkan hadits sering salah dan lupa. Jika masyarakat tidak diberitahu bahwa perawi tersebut hafalannya lemah, masyarakat akan mengamalkan hadits-hadits yang diriwayatkannya. Padahal sebagian besar riwayat haditsnya salah karena lemahnya hafalan perawi tersebut. Dalam hal ini mau tidak mau masyarakat harus diberitahu kelemahan perawi tersebut, agar mereka tidak terjerumus kepada hadits-hadits yang beliau keliru di dalamnya.

Sejatinya Jarh wa Ta’dil adalah ghibah, karena ketika kita menjarh seorang perawi kita telah menyebutkan kejelekan yang ada pada dirinya. Dan sebagaimana kita ketahui, ghibah adalah dosa besar yang harus kita hindari. Firman Allah ta’ala:

…وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

…Janganlah kalian melakukan ghibah, apakah kalian senang memakan daging saudara kalian yang telah mati? Tentunya tidak. Maka Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Tawwab dan Rahim.[ Al-Hujurat: 12]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

Tahukah kalian apa itu ghibah?

Para sahabat mengatakan: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu tentang itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “yaitu perkataan kalian tentang saudara kalian yang tidak disenanginya”.

Para sahabat mengatakan: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika yang kami katakan tentang saudara kami itu memang benar?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Jika yang kalian katakan tentang dia benar maka kalian telah mengghibahnya, namun jika yang kalian katakan tidak benar maka kalian telah menuduhnya(memfitnahnya*pen)”. [HR. Muslim, bab haramnya ghibah]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda ketika Khutbah Wada’:

Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan, haram haram bagi kalian untuk merenggutnya dari saudara kalian sebagaimana haram hari ini, bulan ini, dan tanah ini. [HR. Ahmad dari hadits Hidzyam bin ‘Amr, no: 19480]

Dalil-dalil tersebut menunjukkan keharaman ghibah. Namun ada pengecualian dimana kita boleh melakukan ghibah karena tujuan tertentu. Diantara tujuan dimana kita diperbolehkan melakukan ghibah adalah untuk menghindari kekurangan atau kejahatan seseorang. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Fatimah bintu Qais radhiyallahu ‘anha ketika beliau dilamar oleh dua orang laki-laki; Abu Jahm dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Beliau datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam untuk meminta pendapatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Abu Jahm adalah laki-laki yang ringan tangan(mudah memukul istri), sedangkan Mu’awiyah adalah laki-laki yang miskin dan tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid”.

[Lihat Shahih Muslim, Bab thalaq tiga tidak diwajibkan nafkah bagi suami]

Pada hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menyebutkan aib Muawiyah dan Abu Jahm, hal ini beliau lakukan agar Fatimah bintu Qais radhiyallahu ‘anha terhindar dari kekurangan yang dimiliki kedua sahabat tersebut. Jika kita perhatikan hadits tersebut, kita dapati bahwa tujuan dilakukannya ghibah berkenaan dengan kepentingan dunia. Nah, tentunya ghibah yang dilakukan untuk menjaga agama lebih pantas untuk diperbolehkan. Karena tujuan menjaga agama berkenaan dengan kepentingan akhirat.

Maka ghibah untuk menjaga sunnah, dalam hal ini Jarh wa Ta’dil termasuk keharaman yang diperbolehkan karena adanya suatu hajah atau kepentingan. Dalam suatu kaidah fiqhiyah disebutkan: “Adh-Dharuratu tubihul Mahzhurat” artinya Keterpaksaan menjadikan sesuatu yang haram boleh dilakukan. Namun perlu diingat bahwa sesuatu yang haram jika diperbolehkan dalam keadaan darurat harus dilakukan seperlunya saja. Berdasarkan kaidah: “Adh-Dharutu tuqaddaru biqadriha” artinya kebolehan karena darurat dibolehkan seperlunya saja. Kaidah-kaidah ini berdasarkan firman Allah:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Barangsiapa yang terpaksa sedangkan dia tidak berlebih-lebihan dan tidak melampaui batas, maka tiada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Ghafur dan Rahim.

[Al-Baqarah: 173]

Nah, ghibah dalam rangka menjaga sunnah diperbolehkan karena keperluan untuk menjaga sunnah dari kedustaan. Maka bolehnya ghibah dalam Jarh wa Ta’dil ini hanya dilakukan seperlunya saja. Jika keperluan tersebut yaitu menjaga sunnah sudah terpenuhi, maka kita tidak boleh larut dalam ghibah lainnya dengan menyebutkan aib-aib perawi yang lain. Contohnya seorang perawi yang lemah hafalannya. Maka kita hanya menyebutkan kelemahan hafalannya saja. Adapun misalnya jika perawi tersebut memiliki aib lain seperti emosional, cepat marah dan lain sebagainya, ini tidak perlu disebutkan. Karena aib-aib ini tidak ada hubungannya dengan riwayat yang disampaikannya. Jika kita menyebutkan aib-aib lainnya yang tidak ada hubungannya dengan riwayat, maka kita telah terjerumus ke dalam ghibah yang diharamkan.

Mungkin pada kesempatan ini saya sebutkan beberapa contoh Jarh wa Ta’dil yang kebablasan. Namun saya tidak ingin menyebutkan siapa pelakunya, karena tidak ada gunanya. Lagi pula tujuan saya hanya memperjelas teori di atas dengan contoh bukan untuk merendahkan wibawa seseorang. Yang pertama adalah apa yang dilakukan salah seorang dosen di salah satu perguruan tinggai swasta di Jakarta. Beliau menulis buku yang mengkritik Syaikh Al-Albani rahimahullah. Di dalam bukunya beliau melemahkan sebuah hadits dengan mengatakan “Isa bin Jariyah si biang kerok”. Isa bin Jariyah adalah seorang perawi yang mana ulama Jarh wa Ta’dil berbeda pendapat tentangnya. Namun sebagian besar melemahkannya. Dosen penulis buku tadi ingin menunjukkan bahwa hadits tersebut lemah karena salah seorang perawinya adalah Isa bin Jariyah. Namun yang disayangkan beliau menggunakan istilah “si biang kerok”. Istilah ini bukanlah istilah Jarh wa Ta’dil. Saya belum menemukan satupun ulama Jarh wa Ta’dil menggunakan istilah ini untuk menjarh seorang perawi. Istilah si biang kerok, memiliki makna bahwa orang tersebut suka berbuat onar. Namun apakah benar perawi Isa bin Jariyah sering berbuat onar? Apakah dosen penulis buku tersebut pernah menyaksikannya berbuat onar? Maka dengan ini beliau tidak hanya melakukan ghibah terhadap perawi tersebut bahkan beliau melakukan suatu perkara yang lebih berat dosanya yaitu memfitnah perawi tersebut. Ini adalah contoh kebablasan di dalam Jarh wa Ta’dil.

Contoh lain, saya pernah menemukan artikel di salah satu Blog. Blog ini juga menjadi rujukan bagi ikhwah-ikhwah salafi untuk memperluas wawasan keilmuan mereka. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kekuatan bagi pemilik Blog untuk terus menulis artikel-artikel yang bermanfaat. Ketika saya membaca artikel tentang Qunut Subuh, penulis artikel melemahkan salah satu hadits yang digunakan sebagai hujjah untuk menguatkan qunut subuh. Ya hadits tersebut memang lemah. Namun yang saya sayangkan penulis kurang mengindahkan kaidah Jarh wa Ta’dil ketika melemahkan seorang perawi. Beliau hafizhahullah mengatakan:

“Hadits ini lemah lagi munkar. Penyakitnya ada pada Khaliid bin Dal’aj, seorang yang dla’iif yang meriwayatkan beberapa hadits munkar dari Qataadah. Dan ini sebagian di antaranya”.

Perhatikan ketika beliau mengatakan “penyakitnya”, seakan-akan perawi tersebut layaknya seperti bakteri yang membawa penyakit di dalam tubuh manusia. Saya ber-husnu zhan kepada penulis. Mungkin yang beliau maksud adalah illah. Kata illah dalam bahasa Arab jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia memang berarti “penyakit”. Namun di dalam disiplin ilmu hadits bukan “penyakit” yang dimaksud. Dalam istilah ilmu hadits “illah” berarti sebab tersembunyi yang melemahkan suatu hadits padahal jika dilihat sepintas hadits tersebut shahih[Lihat Tadribur Rawi, 1/408]. Alangkah lebih baik jika penulis tersebut mengatakan “sebab lemahnya hadits” sebagai ganti kata “penyakit”. Maka dengan ini, saya menyarankan kepada ikhwah-ikhwah ketika menerjemahkan agar memperhatikan disiplin ilmu pada naskah yang diterjemahkan. Istilah dalam disiplin ilmu tertentu memiliki makna yang berbeda dengan kosakata yang digunakan secara umum. Secara umum illah berarti penyakit, namun dalam disiplin ilmu hadits berarti “sebab lemahnya hadits”. Kata Akhbarana secara umum berarti “mengabarkan kepada kami”, namun di dalam disiplin ilmu hadits berarti “menyampaikan hadits kepada kami dengan metode qira’ah“. Hal-hal ini perlu dipertimbangkan ketika kita menerjemahkan suatu naskah yang berkenaan dengan displin ilmu tertentu. Guru kami Ust Sufyan Baswedan hafizhahullah pernah menemukan terjemahan sebuah kitab yang mana penerjemahnya menuliskan “Anak Pemburu” tentunya kata anak pemburu merupakan terjemahan dari kata Ibnu Shayyad. Padahal Ibnu Shayyad adalah nama seseorang yang mana tidak perlu diterjemahkan.

Jarh wa Ta’dil antara Ghibah dan Menjaga Sunnah (bag 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: