Syarah Lum’atil I’tiqad (6b)


Syarah Lum’atil I’tiqad (6a)

 

LUM`ATUL I`TIQOD

 

 

 

 

 

–          Sifat kelima          : Ridha

Ridha adalah sifat Allah   yang ditetapkan berdasarkan AlQur’an,  Assunnah (hadits), dan kesepakatan (ijma’) para salaf.  Allah   berfirman :

“Allah ridha terhadap mereka. Dan merekapun ridha terhadapNya.”. (Q.S. Al Maaidah:119)

Nabi    bersabda:

“Sesungguhnya Allah benar-benar ridha terhadap seorang hamba ketika dia makan sebuah hidangan kemudian memujiNya atas makanan tersebut atau meminum satu tegukan kemudian memujiNya atas tegukan itu.”(H.R Muslim)

Para salaf bersepakat atas penetapan sifat ridha pada Allah   oleh karena itu wajib menetapkannya tanpa menyimbpangkan, menghilangkan, membagaimanakan, dan tanpa menyerupakan.

Sifat ridha pada Allah     ini adalah hakiki dengan kemuliaanNya. Kaum Al Mu’aththilah menafsirkan dengan pahala.

Penafian ini kta bantah dengan kaidah keempat yg telah lalu.

 

–          Sifat keenam: Cinta

Sifat cinta pada Allah adlah sifat Allah yang ditetapkan berlandaskan Al-Qur’an, Al Hadits, dan ijma’ para salaf. Allah     berfirman :

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya (Al-Maaidah:54)

Nabi    bersabda ketika perang khaibar: “Sungguh besok aku akan memberikan bendera komando kepada seseorang yang dia mencintai Allah dan RasulNya, dan Allah dan RasulNya mencintainya.”(Muttafaqun’alaih).

Para salaf bersepakat akan adanya sifat cinta pada Allah baik Dia mencintai atau dicintai. Oleh karena itu wajib menetapkan sifat ini dengan sebenarnya tanpa menyimpangkan, menghilangkan, membagaimanakan, dan tanpa menyerupakan. Sifat cinta ini adalah sifat cinta yang hakiki sesuai dengan kemuliaan Allah  . Kaum Al Mu’aththilah mentakwilkan sifat cinta pada Allah dengan pahala. Takwilan mereka ini dibantah dengan kaidah yang keempat.

 

–          Sifat ketujuh: Marah (ghadhab)

Sifat marah adalah sifat Allah yang ditetapkan berlandaskan Al-Qur’an, Al Hadits, dan ijma’ para salaf. Allah     berfirman tentang seorang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja:

(Allah memurkai dan mengutuk mereka. (Q.S Al Fath:6)

Nabi    bersabda :

“Sesungguhnya Allah telah menulis sebuah kitab di sisiNya di atas ‘Arsy: bahwa rahmatKu mengalahkan kemarahanKu.”(Muttafaqun’alaih)

Para salaf berijma’ atas adanya sifat marah pada Allah. Oleh karena itu wajib untuk menetapkanya tanpa menyimpangkan, menghilangkan, membagaimanakan, dan tanpa menyerupakannya. Sifat marah ini adalah sifat yang hakiki sesuai dengan kemuliaan pada Allah.

Kaum Al Mu’aththilah mentakwilkannya dengan sifat menghukum. Takwilan mereka ini dibantah dengan kaidah yang keempat dan dengan sisi keempat bahwa Allah     membedakan antara marah dengan menghukum. Allah berfirman :

Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka (QS. Az-zukhruf: 55)

Dalam ayat di atas, Allah menjadikan hukuman sebagai akibat dari marah. Yang demikian ini menunjukkan bahwa sifat marah bukan sifat menghukum.

 

–          Sifat kedelapan : Murka

Sifat Murka adalah sifat Allah yang ditetapkan berlandaskan AlQur’an, AlHadits, dan ijma’ para slaf. Firman Allah : “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah.” (Q.S Muhammad:28)

Dalam sebuah do’a yang Nabi panjatkan:

“Yaa Allah aku berlindung dengan ridhaMu dari kemurkaanMu, dan (aku berlindung dengan) ampunanMu dari adzabMu…(HR. Muslim)

Para salaf berijma’ atas adanya sifat murka pada Allah. Oleh karena itu wajib untuk menetapkannya tanpa menyimpangakn, menghilangkan, membagaimanakan, dan tanpa menyerupakannya. Sifat marah ini adalah sifat yang hakiki sesuai dengan kemuliaan pada Allah. Kaum Al Mu’aththilah mentakwilkannya dengan sifat menghukum. Takwilan mereka ini dibantah dengan kaidah yang keempat.

 

–          Sifat kesembilan: tidak suka/benci (alkaraahah)

Sifat tidak sukanya Allah terhadap orang yang pantas untuk dibenci adalah sifat yang ditetapkan berdasarkan AlQur’an, Assunnah, dan ijma’ para salaf. Allah berfirman: “Akan tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka”(Q,S AtTaubah:46)

Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah membenci bagi kalian (perbuatan) menyebarkan perkataan yang tidak jelas sumbernya (sekedar isu), banyak bertanya, dan menyia nyiakan harta.” (H.R Al Bukhari)

Para salaf berijma’ atas adanya sifat benci pada Allah. Oleh karena itu wajib untuk menetapkannya tanpa menyimpangkan, menghilangkan, membagaimanakan, dan tanpa menyerupakannya. Sifat benci ini adalah sifat yang hakiki dan benar-benar muncul dari Allah sesuai dengan kemuliaan Allah. Kaum Al Mu’aththilah mentakwilkannya dengan sifat menjauhkan. Takwilan mereka ini dibantah dengan kaidah yang keempat yang telah lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: